Mengenal Syiah

images

HAMPIR seluruh umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah merisaukan kemajuan golongan muslim Syiah di berbagai penjuru dunia hari ini. Malah ada sesetengah tempat berperang besar-besaran antara kelompok Aswaja dengan kelompok Syiah yang pada hakikatnya sama-sama muslim. Apa sebenarnya yang memicu semua itu terjadi, benarkah Syiah itu sesat, sehingga harus dimusuhi dan diperangi oleh Ahlussunnah wal Jama’ah, atau ada kekuatan lain di balik itu yang memanaskan situasi sehingga ummat Islam selalu berkelahi sesama sendiri. Untuk lebih jelas keberadaan situasi semisal itu marilah kita mengenal Syiah lebih dekat dan detil.

Pascaperang Shiffin yang mengalahkan Ali bin Abi Thalib dengan tipu daya pihak Mu’awiyah bin Abi Sufyan sejumlah pengikut setia Ali mengisytiharkan keyakinannya mengangkat Ali sebagai imam mereka. Keyakinan berimam kepada Ali kemudian berafiliasi kepada mengkeramatkan Ahlul Bait yang dinisbahkan kepada Ali, Fathimah, Hasan dan Husin. Keyakinan tersebut terjadi tidak dapat dipisahkan dengan persoalan politik yang menjadi biang keladi munculnya firqah-firqah dalam jamaah muslim seperti Syiah, Khawarij, Murji’ah Ahlussunnah dan sebagainya.

Lalu siapa dan bagaimana sebetulnya Syiah yang kita ketahui hari ini sehingga ia dianggap musuh oleh sesetengah Ahlussunnah? Minimal ada tiga golongan besar Syiah yang masih eksis sampai hari ini di dunia, yaitu Syi’ah Zaidiyah, Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyriah, dan Syi’ah Ismailiyah Bathiniyah.

 Syi’ah Zaidiyah
Syiah Zaidiyah adalah satu paham Syiah yang dekat pemahamannya dengan amalan Ahlussunnah waljama’ah. Perkataan Zaidiyah diambil dari nama tokoh mereka; Zaid bin Ali bin Zainal Abidin bin Husain, yaitu cicit Ali bin Abi Thalib. Golongan ini berprinsip untuk penentuan imam perlu dilakukan dengan kontrak dan terbuka, mereka juga menerima kepemimpinan Abu Bakar dan Saidina Umar karena Ali sendiri yang melepaskan jabatan itu kepada Abu Bakar dan Umar.

Berkenaan dengan kepemimpinan, Syiah Zaidiyah berprinsip: Pertama, seorang pemimpin memiliki keberanian membela agama dan tidak takut kepada siapapun kecuali Allah; Kedua, bersifat zuhud dan hanya mengharapkan balasan akhirat, dan; Ketiga, memahami kepentingan rakyat dan agama; dan keempat, berjuang dengan pedang.

Selain itu mereka juga berprinsip pemimpin perlu dari keturunan Fathimah baik dari garis keturunan Hasan maupun Husin. Mereka meyakini bahwa imam atau pemimpin itu tidak ma’shum seperti nabi, mereka juga menentukan imam lewat revolusi pedang sebagai lambang perjuangannya dengan ketegasan dan keterbukaan. Syiah Zaidiah pula membenarkan adanya dua orang pemimpin dalam satu masa yang bersamaan mengingat luasnya kawasan yang harus dipimpin oleh imam-imam tersebut. Keyakinan, pemahaman dan amalan Syiah Zaidiyah ini dekat dengan keyakinan dan pemahaman Aswaja.

 Syi’ah Imamiyah
 Itsna ‘Asyriyah
Syiah ini adalah pihak yang mengakui 12 imam dimulai dari Ali bin Abi Thalib sampai kepada 12 keturunan tertentu seterusnya. Syiah ini mempunyai banyak golongan seperti; Ushuliyah, Akhbariyah, Syeikhiyah, Kasyfiyah, Kunyah, Karimakhaniyah, Qablabasyiah, dan mayoritas ulama berpendapat Syiah Rafidhah juga termasuk dalam golongan ini. Namun demikian, Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyriyah terbagi kepada tiga aliran pemikiran utama, yaitu: Pertama, Al-Akhbariyah, kelompok ini berpegang penuh kepada hadits dan tidak menggunakan ilmu Ushul Fiqh, sehingga mereka bergelar dengan Akhbariyah; Kedua, Ushuliyah, golongan ini adalah Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyriyah yang melaksanakan ijtihad dan mereka dikenali juga sebagai Madrasah Ar-Ra’yi wat Tafsir, dan; Ketiga, Asy-Syeikhiyah, yaitu kelompok yang diazaskan oleh Ahmad bin Zainuddin bin Al-Ahsa’i pada permulaan abad ke 13 Hijriyah.

Paling tidak ada lima prinsip dasar Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyriyah yaitu; tauhid, nubuwah, imamah, keadilan dan hari kiamat. Kelima prinsip dasar tersebut sudah lumrah dipahami orang banyak karena dimiliki juga oleh Ahlussunnah wal Jamaah, cuma pihak Syiah Imamiyah agak berlebihan dalam mengedepankan keyakinan Imamah. Selain itu ada lima prinsip lagi yang dimiliki mereka adalah: Pertama, sifat ma’shum, Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyriyah meyakini bahwa imam-imam mereka memiliki sifar ma’shum sebagaimana yang dimiliki oleh Nabi; Kedua, al-Mahdi dan keghaiban, golongan syiah ini berpendapat Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari menghilang dan akan kembali sebagai imam Al-Mahdi; Ketiga, raj’ah, yaitu mereka yakin dan percaya bahwa ada kematian dan kemudian kembali kepada kehidupan semula; Keempat, taqiyah, yaitu menyembunyi kebenaran, menutupi keyakinan dan mengaburi perbedaan, dan; Kelima, al-Bada (perubahan atau kemunculan), yaitu menurut para ulama mereka nasakh dan al-bada adalah dua jenis yang sama, nasakh terdapat pada nasakh syariat, sedangkan al-bada terjadi pada penciptaan. Kepercayaan atas al-bada ini sama masyhurnya dengan kepercayaan kepada taqiyah dan nikah muth’ah.

Kelima prinsip tersebut tidak selaras dengan keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah, demikian juga dalam hal memakshumkan imam dan menyamakan ma’shum-nya dengan ma’shum Nabi, perkara taqiyah yang membolehkan mereka menipu untuk keperluan golongan. Selain itu mereka juga menetapkan bahwa yang berhak menjadi imam adalah keturunan Ali dari garis Husin saja dan tidak dari garis Hasan, hal ini berbeda dengan Syiah Zaidiyah yang mengharuskan keturunan dari keduanya.

 Syiah Ismailiyah
 Bathiniyah
Syiah ini diazaskan kepada nama Ismail, sementara bathiniyah berasal dari kata bathin yang merupakan salah satu dari nama-nama Allah yang bermakna; Maha mengetahui berbagai perkara rahasia, yang tersembunyi dan yang terhalang daripada penglihatan serta imajinasi manusia. Golongan Syiah ini memiliki kaedah dakwah tersendiri sebagai alat untuk mengajak dan mengikat orang berada dalam kelompok mereka.

Kaedah-kaedah tersebut adalah: Pertama, Ramalan dan firasat, yaitu pendakwah yang mengajak manusia kepada ajaran mereka memiliki firasat dan ramalan yang kuat. Mereka tidak mengajak seseorang dengan cara yang sama tergantung selera orang yang didakwahkan, kalau orang tersebut suka dunia akan didakwah menurut keperluan dunia, dan apabila orang yang didakwahkan suka akhirat akan didakwahkan mengikut kesukaannya;

Kedua, sifat lemah lembut, mereka mengajak orang dengan cara yang lembut mengikut selera orang yang diajaknya; Ketiga, keraguan, mereka mengajukan berbagai pertanyaan kepada mad’u yang membuat mad’u menjadi ragu; Keempat, menangguhkan, golongan Syiah ini menggunakan cara dakwah menangguhkan sesuatu perkara yang dimunculkan oleh mad’u agar mad’u gamang; Kelima, ikatan, yaitu mengambil sumpah dan janji mad’u mengikut kemauan mereka sehingga mad’u terikat dengan kelompok mereka; Keenam, menipu, mereka mengatakan kepada orang yang didakwahkan perkara agama bukan perkara yang mudah sebab ia mengandung rahasia Allah, hal tersebut tidak akan dibongkar kecuali dengan kedatangan imam Al-Manshur;

Ketujuh, pelandasan, langkah ini dilakukan untuk mengatakan kepada orang yang didakwahkan bahwa landasan lahir adalah kulit sementara batin adalah inti; Kedelapan, menjauhkan dari agama, langkah ini dilakukan untuk menjauhkan orang yang didakwah dari peraturan agama. Kesembilan, melepaskan diri dari agama, mereka mengatakan: “Apabila derajat seorang mukmin berada di peringkat tinggi, maka ia tidak perlu melakukan amalan lagi. Dia tidak wajib berpuasa, salat, haji, jihad, juga diharamkan kepadanya pernikahan, makanan, minuman dan pakaian.”

Syiah Ismailiyah Batiniyah ini pada dasarnya adalah Syiah Imamiyah juga yang berpecah daripadanya. Maka ajaran-ajarannyapun serupa antara keduanya, umpamanya keduanya mewajibkan ada imam untuk ummat manusia sepanjang masa, mereka juga mamakshumkan imam sama dengan Nabi jadi imam dianggap tidak berbuat salah seperti nabi juga. Mereka juga mengakui Abu Bakar dan Umar merampas hak Ali, yang berhak menjadi pengganti Nabi pertama adalah Ali menurut mereka, dan banyak hal lain lagi yang aneh-aneh dari keyakinan mereka yang umumnya ditolak dan tidak disetujui oleh Syiah Zaidiyah. Dengan demikian, maka jelaslah bahwa ada perkara-perkara prinsip yang dimiliki dan diyakini golongan Syiah yang bergeser jauh dari ketentuan dan kelaziman Islam, kecuali Syiah Zaidiyah.

Selingkuh dalam Pandangan Islam

Rasulullah saw bersabda: “Setiap orang bisa mungkin melakukan zina dengan anggota badan. Kedua mata berzina, zinanya adalah melihat atau menatap aurat bukan muhrim. Kedua tangan berzina, zinanya adalah menyantuh atau meraba yang bukan muhrim. Kedua kaki berzina, zinanya adalah melangkan kedua kaki menemui orang yang bukan muhrim (tanpa alasan yang dibenarkan agama). Mulut berzina, zinanya mengecup orang yang bukan muhrim. Hati berzina, zinanya dengan menghayal berzina dengan bukan muhrim, atau menghayal pegangan tangan dengan bukan muhrim. Kesemua itu akan dibenarkan atau dinafikan oleh zina alat kelamin.” (HSR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah).

Kalau sudah sampai ke tingkat zina besar, yah itulah salah satu bentuk dosa besar atau dalam bahasa Arabnya disebut kabaair.

Imam Asy-Syafi’i ra pernah berpesan: “Hindarilah segala yang tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim. Zina adalah utang. Jika engkau mengambilnya, maka ketahuilah, tebusannya adalah anggota keluargamu. Barang siapa berzina, akan dizinai meskipun di dalam rumahnya. Camkanlah, jika engkau termasuk orang yang berakal.”

Dalam bermasyarakat, zina juga merupakan kerusakan besar, antara lain: Dalam perbuatan zina tekumpul semua jenis keburukan, seperti lemahnya agama, hilangnya ketakwaan, hancurnya kesopanan, lenyapnya rasa cemburu, dan terkuburnya akhlak terpuji.

Perbuatan zina dapat membunuh rasa malu sehingga menjadikan seseorang tebal muka atau tidak tahu malu, menjatuhkan harga diri, menghilangkan sebutan hamba yang berbakti, ‘afif (pemelihara kehormatan diri), dan orang yang adil.

Bahkan sebaliknya, orang banyak akan menjulukinya sebagai hamba yang jahat, fasiq, pelacur, dan pengkhianat, memutuskan tali silaturrahim, durhaka terhadap orang tua, menghasilkan harta yang haram, membuahkan akhlak tercela, serta menelantarkan keluarga dan keturunan.

Perbuatan zina memberi dampak negatif terhadap kesehatan jasmani pelaku yang sulit diobati atau disembuhkan, bahkan dapat mengancam kelangsungan hidup pelakunya. Perbuatan itu akan memicu munculnya berbagai penyakit, seperti AIDS, penyakit sifilis, penyakit herpes, penyakit kelamin, dan penyakit kotor lainnya.

Beberapa pihak telah mengklaim bahwa penyebab terbesar mewabahnya penyakita AIDS adalah karena sex bebas atau dengan kata lain zina. Seperti di Subang, diklaim bahwa AIDS 73% disebabkan oleh perilaku seks bebas remaja. Bahkan di Kupang sampai 98% penyebab mewabahnya AIDS adalah karena seks bebas.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, perbuatan zina adalah perbuatan yang sangat dibenci. Allah Swt berfirman: “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (Yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka Allah akan menggantikan keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan-kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 68-70)

Syukur, Ibu baru melakukan zina zina kecil, kalau ziba besarpun pintu taubat masih terbuka. Jangan berputus asa. Allah berfirman: “Katakanlah, hai hamba-hambaKu yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Rasulullah dalam hadis qudsi pernah bersabda: “Allah tabaraka wa ta’ala berkata: Wahai anak adam. Sesungguhnya jika engkau berdoa kepadaKu dan mengharapkanKu maka Aku akan mengampuni semua apa yang ada pada dirimu dan Aku tidak perduli (seberapa besar dosamu). Wahai anak Adam. Seandainya dosamu sampai setinggi langit kemudian engkau meminta ampun kepadaKu, maka Aku akan mengampuninya dan Aku tidak peduli (seberapa besar dosamu). Seandainya engkau datang kepadaKu dengan sepenuh bumi kesalahan-kesalahan (dosa-dosa), kemudian engkau tidak berbuat syirik terhadapKu sedikit pun, maka Aku akan datang sepenuh bumi itu pula dengan pengampunan.”

Karena itu, Buk, bertaubatlah dengan sebaik-baik taubat, dengan cara yang diriwayatkan para ulama, antara lain: Benar-benar menyesali perbuatan tersebut; Berhenti total dari perbuatan tersebut; Berjanji untuk tidak mengulanginya. Apabila ternyata masih mengulanginya, maka hal tersebut belum dikatakan taubat nasuha (taubat yang sebenarnya).

Untuk mempermudah pelaksanaannya, ada beberapa langkah yang mungkin ibu lakukan, antara lain: Mengikhlaskan niat agar benar-benar ikhlas hanya untuk Allah; Melakukan semua hal yang dicintai oleh Allah; Menuntut dan memperdalam ilmu ilmu Islam; Berusaha dengan keras dengan membuat jadwal rutin ibadah; Berteman dengan orang-orang yang shalih dan mencari teman yang bisa membantunya untuk selalu taat; Menjauhi sebab-sebab yang dapat memancing syahwat; Membayangkan akibat buruk dosa yang akan dilakukan; Memperbanyak doa dan istigfar.

Hukum dan Manfaat Zikir Setelah Shalat Fardhu

Zikir datangnya dari Alquran dan sunnah yang shahih. Oleh karena itu, tidak dinamakan ibadah jika datang dari siapa pun zikir yang tiada nash-nya. Zikir ini tidak boleh ditambah atau dikurangi jika ditentukan dengan syarat tertentu walaupun hukumnya sunat.

Dari Kaab bin ‘Ujrah, Nabi saw bersabda: “Beberapa kalimat yang diucapkan sesudah shalat wajib, tidak akan rugi/kecewa orang yang mengucapkan atau mengerjakannya, yaitu: 33 Kali tasbih (subhanallah), 33 kali tahmid (alhamdulillah), dan 34 kali takbir (Allahu Akbar).” (HR. Muslim dan lain-lain).

Dari Abi Hurairah ra, Nabi saw bersabda: “Barangsiapa bertasbih/menyucikan Allah (subhanallah) setelah shalat (fardhu) 33 kali, dan bertahmid/memuji Allah (alhamdulillah) 33 kali, dan bertakbir/membesarkan Allah (Allahu Akbar) 33 kali, maka jumlahnya menjadi 99 kali. Kemudian mengucapkan 1 kali (Laailaha illallah wahdahu laasyarikalah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa a’laa kulli syai’in qadir), niscaya diampuni kesalahan-kesalahannya meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim dan lain-lain).

Dari Zaid bin Tsabit, dia berkata: “Mereka (para sahabat) diperintah (oleh Nabi saw) bertasbih (subhanallah) di belakang setiap shalat (fardhu) 33 kali, bertahmid (alhamdulillah) 33 kali, dan bertakbir (Allahu Akbar) 34 kali. Kemudian seorang lelaki dari (kaum) Anshar bermimpi didatangi (seseorang) lalu dikatakan kepadanya: Bukankah Rasulullah saw telah memerintahkan kamu untuk bertasbih di belakang setiap shalat 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 34 kali? Jawab lelaki Anshar tadi: Betul! Orang itu berkata lagi: “Jadikanlah dia 25 kali dan jadikanlah juga padanya tahlil (Laailaha illallah atau Laailaha illallah wahdahu laasyarikalah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa a’laa kulli syai’in qadir) 25 kali.”Apabila aku bangun pagi, lelaki Anshar itu datang kepada Nabi saw dan menerangkan mimpinya itu. Maka Nabi saw bersabda: Jadikanlah dia seperti itu.” (HR. An-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan lain-lain).

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: “Sejumlah orang miskin datang kepada Nabi saw, seraya mereka berkata: Orang-orang yang banyak harta/kaya telah memperoleh darajat yang tinggi dan kenikmatan yang tetap, mereka shalat seperti kami shalat dan mereka puasa seperti kami puasa, tetapi mereka memiliki kelebihan harta yang dengannya mereka dapat berhaji, umrah, berjihad, dan bersedekah. Nabi saw bersabda: Maukah, aku ceritakan sesuatu yang jika kamu mengamalkannya kamu dapat mengejar orang-orang yang mendahului kamu itu, dan tidak ada sesudah itu orang yang dapat mengamalkan seperti itu? Kemudian Nabi menjawab sendiri dengan sabdanya: Hendaklah kamu bertasbih, bertahmid dan bertakbir di belakang setiap shalat (fardu) masing-masing 33 kali.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abdullah bin Amr, Nabi saw bersabda: “Dua macam yang tidak memelihara akan keduanya seorang hamba Muslim melainkan dia akan masuk syurga (siapa yang memeliharanya akan masuk syurga). Ketahuilah! Keduanya itu mudah, akan tetapi sedikit orang yang mengamalkannya, yaitu mensucikan Allah (bertasbih subhanallah) di belakang setiap shalat maktubah/wajib 10 kali, memuji-Nya (bertahmid – alhamdulillah) 10 kali, dan membesarkan-Nya (bertakbir – Allahu Akbar) 10 kali, maka yang demikian itu menjadi 150 kali pada ucapan (30 x 5 shalat fardu = 150) dan 1.500 kali pada timbangan. Kemudian bertakbir (Allahu Akbar) 34 kali ketika hendak tidur dan bertahmid (alhamdulillah) 33 kali dan bertasbih (subhanallah) 33 kali, maka yang demikian itu menjadi 100 kali pada ucapan (34 + 33 + 33 = 100) dan 1.000 pada timbangan. Maka, siapakah di antara kamu yang mengerjakan dalam sehari semalam 2.500 kesalahan? Mereka (para sahabat) bertanya: Ya Rasulullah, mengapa kedua itu mudah tetapi sedikit orang yang mengamalkannya? Nabi saw menjawab: Karana syaitan datang kepada seseorang kamu apabila dia telah selesai shalatnya lalu syaitan mengingatkannya akan keperluan ini dan itu, sehingga terus dia bangun dan tidak mengucapkannya. Kemudian syaitan datang kepadanya apabila dia hendak tidur lalu syaitan menidurkannya sebelum dia mengucapkannya. Berkatalah Abdullah bin Amr: Aku melihat Rasulullah saw menghitung tasbih dengan tangan kanannya.” (HR. Abu Daud, Ahmad, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban-Sahih).

Dari Tsauban, dia berkata: “Biasanya apabila Rasulullah saw telah selesai menunaikan shalat, beliau mengucapkan: astaghfirullah 3 kali, kemudian mengucapkan: Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarakta yaa dzal jalaali wal ikram.” (HR. Muslim, Ahmad dan lain-lain).

Dari ‘Uqbah bin Amir, dia berkata: “Rasulullah saw telah memerintahkanku supaya aku membaca Al-Muawidzat (1. Qulhuwallahu Ahad; 2. Qul a’udzu bi rabbil falaq; 3. Qul a’udzu bi rabbinnaas) di belakang setiap shalat (fardu/wajib).” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i dan lain-lain).

Dari Abi Umamah, Nabi saw bersabda: “Barangsiapa membaca ayat kursi di belakang setiap shalat maktubah/fardu/wajib, niscaya tidak ada yang menghalanginya dari masuk syurga kecuali kalau dia tidak mati.” (HR. An-Nasa’i dan lain-lain).

Apakah zikir-zikir itu dibaca dengan suara keras? Zikir setelah shalat fardhu itu dibaca dengan bersuara, sesuai kebiasaan Rasulullah saw. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan pada Bab Dzikir setelah shalat, dari Ibnu Abbas ra, beliau berkata: “Sesungguhnya mengeraskan suara zikir ketika orang-orang usai melaksanakan shalat wajib merupakan kebiasaan yang berlaku pada zaman Rasulullah saw. Ibnu Abbas menambahkan: `Aku mengetahui mereka selesai shalat dengan suara itu, apabila aku mendengarnya.” (HR. Bukhari).

Hadis-hadis di atas merupakan dalil tentang sunnahnya menjaharkan (mengeraskan) suara zikir sesudah shalat. Ibnu Huzaimah memasukkan hadits di atas dalam kitab Shahih-nya. Ibnu Daqiq al-‘Id, juga menyatakan hal yang sama: “Dalam hadis ini, terdapat dalil bolehnya mengeraskan zikir setelah shalat, dan takbir secara khusus termasuk dalam kategori zikir.” (Ihkamul Ahkam Syarah Umdatul Ahkam).

Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim mengatakan, bahwa hadis ini adalah dalil bagi pendapat sebagian ulama salaf bahwa disunnahkan mengeraskan suara takbir dan zikir sesudah shalat wajib. Dan di antara ulama muta’akhirin yang menyunatkannya adalah Ibnu Hazm al-Zahiri. Sedangkan Imam al-Syafi’i ra, memaknai hadis di atas dengan mengatakan, bahwa Nabi saw mengeraskan (zikir sesudah shalat) hanya dalam waktu sementara saja untuk mengajari mereka tentang sifat zikir, bukan mengeraskan terus menerus. Imam Syafi’i berpendapat agar imam dan makmum melirihkan dzikir kepada Allah Swt sesudah shalat, kecuali kalau imam ingin agar makmum belajar darinya, maka dia mengeraskan zikirnya sehingga ia melihat makmum telah belajar darinya. Beliau memaknai hadits tersebut demikian. (lihat: Syarah Shahih Muslim lin Nawawi).

Microsoft & Dell Sepakat Paten Cross-License

255_logo_dell_320x245Sebagai industri komputasi tradisional terus tenggelam di bawah gelombang teknologi mobile baru, perangkat keras komputer dan perangkat lunak tradisional perusahaan sedang berjuang untuk menemukan tempat di lanskap dengan cepat bergeser. Realitas baru ini disorot pekan ini sebagai dua raksasa komputasi 90-an sekarang telah bergabung kekuatan untuk mencegah serangan paten.


Microsoft dan Dell minggu ini mengumumkan bahwa mereka telah menandatangani perjanjian lisensi paten. Kesepakatan itu akan memungkinkan kedua perusahaan untuk paten lisensi silang dan merupakan perluasan dari hubungan kerja yang erat kedua perusahaan telah memiliki lebih dari tiga dekade terakhir.

Pengumuman hari ini dibangun di atas sejarah kami bekerja sama untuk membawa teknologi baru ke pasar,” kata Neil Tangan, VP End User Computing Products di Dell. Hubungan antara Dell dan Microsoft terus membantu Dell memberikan pilihan dan fleksibilitas kepada pelanggan mencari teknologi terbaik untuk memenuhi kebutuhan mereka.”

Menurut ketentuan spesifik dari perjanjian tersebut, Microsoft dan Dell akan dapat menggunakan portofolio mereka gabungan paten yang berlaku untuk produk-produk seperti sistem operasi Android , Chrome OS , dan Xbox konsol video game . Royalti telah disepakati untuk Microsoft untuk lisensi Android dan Chrome paten dan Dell untuk lisensi paten Xbox . Persyaratan perjanjian royalti ini belum dirilis .

” Kesepakatan kami dengan Dell menunjukkan apa yang dapat dicapai ketika perusahaan berbagi kekayaan intelektual , ” kata Horacio Gutierrez , VP corporate Inovasi dan Kekayaan Intelektual di Microsoft . ” Kami telah bermitra dengan produsen teknologi dan vendor selama bertahun-tahun untuk kerajinan kesepakatan lisensi , bukan strategi litigasi . ”

Dalam beberapa bulan terakhir , Dell menyelesaikan pembelian utama yang membawa perusahaan kembali di bawah kendali swasta investor termasuk pendiri Dell Michael Dell dan perusahaan investasi Silver Lake Partners . Perusahaan , seperti begitu banyak produsen PC tradisional lainnya , adalah mengubah bisnisnya untuk lebih fokus pada layanan enterprise dan perangkat lunak .

Microsoft , di bawah kepemimpinan baru CEO Satya Nadella , saat ini terus maju dengan rencananya untuk menjadi ” perangkat dan layanan perusahaan . ” Perusahaan tertinggal lain seperti Apple dan Google selama dekade terakhir dan sekarang berjuang untuk mengejar ketinggalan dalam pasar ponsel saat berhadapan dengan dampak dari rilis ( relatif ) berhasil dengan Windows 8 .

Ini Dia Kelompok Politik Primitif

DALAM berbagai studi kemasyarakatan, berbagai ahli telah menaruh banyak perhatian terhadap kelompok sosial, di mana mereka melakukan klasifikasi terhadap jenis-jenis kelompok yang terdapat di dalam masyarakat. Robert Bierstedt misalnya, mengklasifikasikan kelompok masyarakat ke dalam empat jenis kelompok, yakni kelompok asosiasi, kelompok sosial, kelompok kemasyarakatan dan kelompok statistik. Ferdinand Tonnies mengklasifikan ke dalam gemeinschaft (society) dan gesselschaft (community). Sedangkan Robert K Merton mengklasifikasikan ke dalam membership group dan reference group, serta pengklasifikasian oleh berbagai ahli sosiologi lainnya.

Satu bentuk pengklasifikasian terhadap kelompok masyarakat yang menarik untuk diulas adalah suatu pengklasifikasian yang diperkenalkan oleh WG Sumner berupa in-group dan out-group. Sumner menjelaskan bahwa di dalam masyarakat terdapat kecenderungan diferensiasi berupa kelompok kita (we-group) atau kelompok dalam (in-group) dengan orang lain: kelompok orang lain (others-group) atau kelompok luar (out-group). Dalam hal ini, anggota kelompok dalam menganggap kelompok mereka sendiri sebagai pusat segala-galanya dan sebagai acuan kelompok luar. Sebagai contoh, Sumner mengacu pada orang Yahudi yang menganggap diri mereka sebagai “bangsa terpilih”, orang Yunani dan Romawi yang menganggap semua orang luar biadab (Kamanto Sunarto, 2004:130-131).

Klasifikasi Sumner ini hingga saat ini masih dijadikan acuan oleh para sosiolog dalam menganalisa gejala problema masyarakat yang berkembang saat ini. Zanden (1979) menguraikan penelitian Muzafer Sherif yang di dalamnya terdapat dua kelompok remaja yang berkemah bersama dibangkitkan rasa permusuhannya sehingga masing-masing kelompok mengembangkan perasaan kelompok dalam (in-group feeling) yang kuat serta permusuhan terhadap kelompok luar.

 Perasaan kelompok

Hasil penelitian Sherif tersebut dapat kita gunakan untuk menjelaskan rangkain perkelahian antara siswa berbagai sekolah lanjutan atas dan antara mahasiswa berbagai fakultas yang telah sekian lamanya melanda masyarakat kita. Perasaan kelompok dalam yang sangat kuat merupakan salah satu faktor penyebab mengapa konflik antarsiswa sekolah bahkan mampu berkembang menjad tindak pidana seperti perusakan harta benda, penganiayaan dan hingga pembunuhan.

Bukan hanya dalam gejala sosial, dalam bidang politik pun, kasus permusuhan in-group dan out-group ternyata telah menggejala. Kita pasti telah sering melihat terdapat kelompok-kelompok politik tertentu –yang biasanya atas landasan kepentingan dan motif yang cukup besar terhadap kekuasaan– menganggap kelompoknya sebagai kelompok politik yang paling unggul dan paling layak berkuasa. Pada dasarnya, bukanlah hal yang asing di dalam perpolitikan ketika setiap kelompok mengkampanyekan dirinya sebagai kelompok yang paling hebat. Semua kelompok politik harus mencari landasan yang kuat bagi keberadaan mereka dalam politik melalui simpati dan dukungan masyarakat. Jika mereka tidak mampu merasionalkan masyarakat bahwa kelompok mereka adalah kelompok terbaik, maka tentu harus segera siap-siap untuk angkat koper.

Namun situasi persaingan antarkelompok politik yang ada tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada kalanya, persaingan yang terjadi mengarah pada tindakan-tindakan fatal. Yakni ketika terdapat anggota kelompok yang memiliki pola sikap cukup fanatik terhadap kelompoknya sendiri, menanamkan feeling in-group yang cukup dalam, merasa kelompoknya sebagai satu-satunya kelompok politik paling unggul sedangkang kelompok lainnya seolah musuh politik yang harus dilenyapkan bagaimanapun caranya. Hal ini tentu harus diwaspadai karena persaingan politik tidak mengharuskan antarkelompok menjadi musuh politik yang saling menghancurkan apa lagi hingga taraf-taraf tindakan yang tak pantas dan melangar hukum.

Adalah wajar jika pun suatu kelompok politik merasa dirinya paling unggul ketika nilai lebih yang ada padanya didasarkan pada kapasitas-kapasitas objektif yang patut dibanggakan pada dominan anggotanya, program dan visi strategis yang layak untuk ‘dijual’ dan memiliki track record yang cukup ideal –minimal tidak cacat. Namun permasalahannya, yakni ketika sebagian kelompok merasa paling hebat hanya dikarenakan faktor-faktor seperti mitos sejarah, nilai dan keyakinan subjektif serta simbol-simbol feodalistik tertentu. Konsep berpikir yang jauh dari ciri manusia modern.

Permasalahan lain timbul ketika in-group feeling yang telah terlalu dalam dimiliki sebuah kelompok dibarengi oleh kepemilikan terhadap kekuasaan yang terpusat dan berlebihan (over power) sehingga memicu dan menjadi alat ampuh baginya untuk dengan mudahnya menyingkirkan kelompok lain. Bertrand Russel dalam bukunya Principles of Social Reconstruction mengembangkan sebuah analisa mengenai kekuatan yang terpusat menggunakan analisa psikologi mengenai sifat manusia. Russel menyatakan bahwa orang-orang yang menyandang over power biasanya tidak mampu melakukan perundingan persahabatan dengan pihak lain. Pembengkakan kekuatan akan memperdalam nafsu atau naluri untuk berkonflik, oleh karena itu pihak yang over power akan lebih suka bermusuhan dan berperang daripada yang kekuasaannya tersebar secara merata.

Tentu saja sikap kelompok Yahudi yang merasa paling unggul ditambah dengan kepemilikan kekuatan dan kekuasaan yang terlalu besar, sehingga menjadi dasar untuk menyingkirkan kelompok lainnya yang dianggap menganggu kepentingan dan dianggap mengancam eksistensi mereka sebagai ras paling hebat. Demikian halnya sikap kelompok Nazi Jerman serta ras Arya yang berperilaku sama hingga melakukan genosida terhadap kaum Yahudi, merupakan pola sikap immoral yang tidak pantas dijadikan contoh karena cenderung mengarah pada perilaku menyimpang dan psikologi politik yang abnormal.

Faktor lain yakni frustasi-agresi, seperti yang dikemukakan oleh Banton (1967), dapat menjadi dasar prasangka untuk bertikai dengan kelompok lain, dimana suatu kelompok akan melakukan agresi manakala usahanya untuk memperoleh kepuasan terhalang, baik terhadap kelompok yang secara langsung menghalangi kepentingannya atau terhadap kelompok lainnya yang dijadikan “kambing hitam”.

Dalam bidang politik, kecenderungan pola hubungan dan sikap yang demikian semakin terlihat jelas. Di mana ketika terdapat suatu kelompok politik tertentu yang baik secara terang-terangan maupun terselubung menggunakan cara-cara berupa intimidasi, kekerasan fisik, pengrusakan terhadap fasilitas bahkan hingga taraf pembunuhan terhadap anggota kelompok lain. Secara politis, suatu kelompok bahkan menggunakan cara-cara inkonstitusional sebagai upaya menghadang kelompok lain untuk memperoleh hak politik yang setara melalui mekanisme hukum yang bertentangan dengan nilai-nilai demokratis.

Masyarakat primitif

Hal yang perlu diketahui adalah bahwa metode pengklasifikasian berupa in-group dan out-group merupakan metode yang digunakan oleh Sumner untuk mengklasifikasikan jenis masyarakat primitif. Sumner dengan gambling mengemukakan bahwa masyarakat primitif memiliki kecenderungan terbesar terhadap pola sikap di mana in-group feeling yang sangat kuat dan mengarah pada sikap persahabatan, keteraturan, kerjasama dan perdamaian terhadap sesama, sedangkan terhadap out-group dengan frontal cenderung memiliki sikap permusuhan, kebencian, perang, perampokan bahkan diwariskan dari suatu generasi ke generasi yang lain dan menanamkan kewajiban untuk merampok, memperbudak dan membunuh anggota kelompok out-group.

Masyarakat modern akan mengembangkan hubungan antarkelompok ke arah perdamaian, integrasi, pluralisme, toleransi, fair play, dan demokratis. Kita tidak mungkin dapat menghilangkan unsur perbedaan di dalam kelompok masyarakat. Namun bukan saatnya lagi menggunakan kekerasan, prasangka, antagonis apalagi upaya penyingkiran paksa terhadap kelompok lain atas dasar kepentingan apapun, karena kita bukan lagi jenis masyarakat primitif.

Kalender Masehi

KALENDER adalah sistem pengorganisasian waktu-waktu untuk tujuan penandaan serta perhitungan waktu dalam jangka panjang (Susiknan Azhari, 2008). Kalender sangat erat kaitannya dengan peradaban manusia, dikarenakan semua aspek kehidupan manusia tergantung pada waktu. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa berinteraksi dengan lainnya. Dalam ruang lingkup kecil saja, jika dua orang yang akan bertemu untuk suatu keperluan, maka akan sangat sulit dilaksanakan tanpa adanya sebuah kelender yang bisa digunakan sebagai patokan janji mereka.

Secara umum ada tiga jenis kalender yang dipakai umat manusia: Pertama, Kalender Solar yaitu kalender yang didasari pada matahari seperti kalender Masehi; Kedua, Kalender Lunar yaitu kalender yang didasari pada bulan seperti kalender Hijriyah, dan; Ketiga, Kalender Lunisolar yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari seperti kalender Imlek dan Saka. Semua kalender pastilah tidak sempurna, sebab jumlah hari dalam setahun tidak bulat. Untuk memperkecil kesalahan, harus ada tahun-tahun tertentu yang dibuat sehari lebih panjang (kabisat). Tulisan ini lebih menitikberatkan pada kalender Masehi dengan rangkaian sistem dan sejarahnya.

 Sebagai referensi

Sistem kalender Masehi ini kebanyakan dipakai sebagai referensi untuk kegiatan sehari-hari yang bukan ibadah. Kalender Masehi dihitung berdasarkan perjalanan Bumi dalam melakukan revolusi penuh mengelilingi matahari selama 365,256 hari. Jumlah hari ini sedikit lebih banyak ketimbang kalender Hijriyah, dimana kalender Hijriyah yang berpatokan pada posisi bulan mengelilingi bumi dalam setiap bulan 29,53059 hari. Apabila dikalikan dengan 12 bulan, maka jumlah hari bulan Hijriyah dalam setahun 354,36708 hari.

Secara sederhana bisa dipastikan dalam setiap tahun 11 hari lebih panjang kalender Masehi ketimbang kalender Hijriyah. Hal ini sangat terkesan pada bulan Ramadhan yang selalu tidak sama dengan bulan Masehi pada setiap tahunnya. Yang lebih ironisnya apabila orang mengeluarkan zakat atas perhitungan kalender Masehi. Bila kita berpegang pada pendapat, hitungan tahun zakat harus dengan kalender Hijriyah, maka dalam setiap 30 tahun mengeluarkan zakat dengan kalender Masehi akan terdapat 1 tahun ia tidak berzakat karena dalam setiap satu tahun kalender Masehi ada 11 hari yang terabaikan.

Kalau dilihat dari sejarahnya, maka kita akan menemukan bahwa kalender Masehi merupakan penyempurnaan dari kalender Julian (kalender yang disahkan oleh Julius Caesar pada 45 SM), dimana orang pertama kali mengusulkan untuk perubahan adalah Aloysius Lilius dari Napoli Italia, usulan ini disetujui oleh Paus Gregorius XIII pada 24 Pebruari 1582. Usulan ini muncul karena kalender Julian dinilai kurang akurat, sebab permulaan musim semi (21 Maret) semakin maju sehingga perayaan Paskah yang sudah disepakati sejak Konsisli Nicea I pada tahun 325 tidak tepat lagi. Pada 5 Oktober 1582 selisih hari sudah mencapai 10 hari. Untuk mensterilkan pergeseran waktu yang begitu jauh, maka paus Gregorius XIII melalui sidang paripurna menetapkan pada 5 Oktober 1582 bahwa besok (seharusnya 6 Oktober 1582) menjadi 15 Oktober 1582.

Setelah kalender Masehi ini ditetapkan, tidak semua Negara menggunakannya. Rusia, misalnya, baru menggunakannya pada 1918. Lambat laun kalender Masehi digemari oleh penduduk dunia dan dijadikan sebagai kalender resmi negara masing-masing dengan alasan: Pertama, mudah dalam menentukan waktu dan tanggal, dalam artian kalau di Grenwich 1 Januari 2014 terjadi pada Rabu, maka di seluruh dunia tanggal tersebut pun jatuh pada hari yang sama. Dalam kalender ini pergantian hari dimulai pada pukul 00.00 (jam 12.00 malam). Dan setelah lewat jam tersebut maka sudah masuk pagi hari berikutnya.

Kedua, mudah dalam menentukan garis tanggal internasional (international date line) yang berfungsi untuk menentukan di mana dan kapan suatu tanggal dan hari dimulai. Garis ini terletak di Lautan Pasifik pada Garis Bujur 180 derajat. Garis ini tidak lurus mengikuti garis bujur tersebut dari Utara ke Selatan, melainkan pada tempat tertentu membelok. Belokan yang paling mencolok adalah ketika melewati kepulauan Kiribati Pasifik tengah (Syamsul Anwar, Problematika Hisab Rukyat, hal. 120). Atas dua dasar inilah kemungkinan besar kalender Masehi menjadi kalender resmi di kebanyakan negara termasuk Indonesia.

 Nama-nama bulan
Kalender Masehi menetapkan jumlah bulan dalam satu tahun 12 bulan dengan jumlah hari yang tetap sebagaimana pada Julian, yaitu: Januari (bulan ke-1) dalam tahun Masehi, berasal dari nama Dewa Janus (dewa bermuka dua), yang satu menghadap ke depan dan satunya lagi menghadap ke belakang yang disebut juga sebagai Dewa Pintu; Februari (bulan ke-2) berasal dari nama dewa Februus, Dewa Penyucian; Maret (bulan ke-3) berasal dari nama Dewa Mars (Dewa Perang). Pada mulanya, Maret merupakan bulan pertama dalam kalender Romawi, lalu pada tahun 45 SM Julius Caesar menambahkan bulan Januari dan Februari di depannya sehingga menjadi bulan ketiga;

April (bulan ke-4) berasal dari nama Dewi Aprilis (bahasa Latin: Aperire) yang berarti “membuka”. Diduga kuat sebutan ini berkaitan dengan musim bunga dimana kelopak bunga mulai membuka. Juga diyakini sebagai nama lain dari Dewi Aphrodite atau Apru, Dewi Cinta orang Romawi; Mei (bulan ke-5) berasal dari nama Dewi Kesuburan Bangsa Romawi, Dewi Maia; Juni (bulan ke-6) berasal dari nama Dewi Juno; Juli (bulan ke-7) bulan lahirnya Julius Caesar, sebab itu dinamakan sebagai bulan Juli.

Sebelumnya bulan Juli disebut sebagai Quintilis, yang berarti bulan kelima dalam bahasa Latin. Hal ini dikarenakan kalender Romawi pada awalnya menempatkan Maret sebagai bulan pertama; Agustus (bulan ke-8) berasal dari nama kaisar Romawi, yaitu Agustus. Pada awalnya, ketika Maret masih menjadi bulan pertama, Maret menjadi bulan keenam dengan sebutan Sextilis; September (bulan ke-9) berasal dari bahasa Latin Septem, yang berarti tujuh. September merupakan bulan ketujuh dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM;

Oktober (bulan ke-10) berasal dari bahasa Latin Octo, yang berarti delapan. Oktober merupakan bulan kedelapan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM; November (bulan ke-11) berasal dari bahasa Latin Novem, yang berarti sembilan. November merupakan bulan kesembilan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM, dan; Desember (bulan ke-12) atau bulan terakhir dari tahun Masehi, berasal dari bahasa Latin Decem, yang berarti sepuluh. Desember merupakan bulan kesepuluh dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM (Ahmad Sabiq, 2010).

Ka’bah, Nabi Ibrahim dan Muhammad SAW

PADA awalnya, bangunan Kakbah yang terdapat di dalam Masjidil Haram, di Mekkah al-Mukaramah, Arab Saudi, hanyalah fondasi empat persegi panjang. Bagian dindingnya sebelah timur laut yang sejajar dengan barat laut panjangnya sama, yaitu sekitar 12 meter. Sedangkan lebar dinding bagian utara dan selatan sekitar 10 meter. Jika hujan turun atau datangnya banjir, maka fondasi yang terletak di dasar lembah (bathn) Mekkah ini menjadi alur aliran air yang datang dari perbukitan di sekitarnya. Arah sudutnya tidak persis menunjuk ke mata angin. Keempat pojok ini kemudian diberi nama: Utara namanya Rukn al-‘Iraqi, sebelah barat Rukn al-Syami, sebelah selatan Rukn al-Yamani, dan timur Rukn al-Aswad (sesuai dengan tempat letak batu hitam, Hajr al-Aswad).

Inilah rumah ibadah pertama untuk menyembah Allah SWT. Selama membangun Kakbah itulah Ibrahim menengadahkan kedua belah tangannya diikuti oleh putranya Ismail, meneriakkan: “Saya siap, ya Tuhanku saya siap!” (labbaik, Allahumma labbaik). Di saat itu pula Tuhan menjanjikan akan menjadikan keturunan Ibrahim sebagai satu kaum yang besar. Tapi siapa sebenarnya Ibrahim? Ibrahim berasal dari kota Ur di Kaldea, sebuah kota metropolitan kala itu, hal ini dibuktikan ribuan tahun setelah itu, dilakukan penggalian atas tumpukan pasir yang mencurigakan di sebuah tempat, 900 Km di selatan Baghdad (Irak), 3 Km dari sungai Eufrat dan 250 Km dari pantai teluk Persia, awal tahun 50-an, membongkar sebuah rahasia besar.

 Peradaban tinggi

Di tempat penggalian tersebut para ahli purbakala menemukan sebuah kota mewah: Kota Ur, yang disebut-sebut sebagai tempat asal Nabi Ibrahim as. Di zaman itu, sekitar 2500 tahun sebelum Masehi (SM), tentu letaknya di tepi pantai Teluk Persia. Endapan yang terus dibawa lumpur sungai Eufrat selama ribuan tahun, tak ayal lagi telah menjauhkan kota ini dari tepi laut. Kala itu Ur adalah sebuah pelabuhan internasional yang menampung barang dari dan ke India. Ur adalah sebuah metropolitan yang ramai dengan peradaban yang jauh lebih tinggi dari wilayah lain di sekitarnya, paling tidak dari segi bentuk bangunan dan model perumahannya.

Kebanyakan rumah yang ditemukan berukuran cukup besar, dengan jumlah kamar 13-14 buah, dan banyak di antaranya bertingkat dua atau tiga. Jadi, Ur di Kaldea ini adalah sebuah kota berperadaban tinggi. Seperti Nabi Muhammad saw, Ibrahim datang dari sebuah negeri berkebudayaan urban yang tinggi. Tak beda dengan Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim as juga pemberontak melawan penyembahan matahari, bintang dan bulan yang alasan-alasannya termaktub dalam Alquran (QS. Al-An’am: 74-82). Nabi Ibrahim as juga orang pertama memerangi pemujaan terhadap berhala (QS. Al-Anbiya: 60). Pemberontakan Ibrahim atas penyembahan berhala itu memancing reaksi keras para penguasa dan penganut, yang kemudian melempar Ibrahim ke dalam api (QS. Al-Anbiya: 68-69).

Dalam tafsiran umum, api itu dikaitkan dengan Namruz, seorang Raja yang wilayahnya mungkin meliputi seluruh daerah dua aliran. Ibrahim lolos dari kobaran api dan kemudian mengembara ke utara melalui Babylonia ke Assyria dan mengalami berbagai usaha untuk melenyapkannya (QS. Al-Anbiya: 70). Rupanya apa yang dikatakan Alquran bahwa ia berbicara dengan ayahnya (QS. Maryam: 41-48) berlangsung ketika ia dewasa. Ia lalu meninggalkan kampung halamannya dan sampai ke daerah subur di Padan Aram dengan menghindari gurun Syria. Dari sana ia berkelana ke selatan di Kana’an, tempat berlangsungnya petualangan bersama keponakannya Luth (QS. At-Taubah: 67-76).

Setelah berbilang tahun, barulah terjalin kisahnya bersama Hajar. Istri pertamanya, Sarah membolehkan ia mengawini Hajar, budaknya berbangsa Abysinia mungkin berasal dari kota kuno Pebusium di Mesir. Ibrahim memang telah uzur dan belum mempunyai keturunan. Dari perkawinan dengan Hajar ia memperoleh anak, Ismail. Ketegangan keluarga karena cinta segitiga ini, memaksa Ibrahim membawa Ismail ke selatan, sampai ke lembah Mekkah. Di sinilah Ibrahim membangun Kakbah, rumah peribadatan kepada Allah Yang Maha Esa yang pertama.

Kakbah yang dibangun Nabi Ibrahim as itu merupakan muara pertemuan Ibrahim, Muhammad saw, Tuhan, dan Manusia. Kakbah hanya simbol kenabian Ibrahim dan Muhammad, perlambang keesaan Allah dan kesatuan umat manusia yang menyembahNya. Menjelang kenabian Muhammad Saw, Kakbah telah menjadi satu pusat berhala terbesar di dunia. Dalam perjalanan waktu, agama Ibrahim memang telah dibelokkan oleh para penganutnya. Lebih jelek dari penyimpangan Islam oleh bangsa Badui di saat pembaruan Muhammad bin Abdul Wahab (Wahabi) pada era 1740-an, dimana ada Badui yang memulai lagi penyembahan batu dan pohon.

Kala pemugaran di zaman Muhammad saw, tinggi dinding Kakbah kurang dari 2 meter. Tidak ada atap sehingga bila hujan, aneka hiasan yang ada di dalamnya basah kuyup. Kepala berhala tersiram dari atas dan kakinya tergenang dalam air lumpur yang kotor. Lama sebelum itu, Kakbah ini telah menjadi tempat ziarah yang teratur, sehingga ketika geografer Ptolemus mengunjunginya pada abad ke-2 SM, ia menamakannya sebagai “Makoraba” yang berhubungan dengan arti “karib” yakni “biara”. Orang ramai berziarah ke sana setiap tahun. Beberapa kali sebelum ini Kakbah telah diperbaiki antara lain di zaman Qushay dan Abdul Muthallib, kakek Nabi.

Rupanya ada Raja bernama Tubba As’ad Abu Karib Himyari yang mula pertama membawa kiswah (selubung) berwarna hitam yang kemudian dipakai lalu menjadi tradisi untuk menutup dinding Kakbah sampai hari ini. Rencana pemugaran itu sebenarnya hanya perbaikan atas karya Ibrahim. Fondasinya ditinggikan sampai empat hasta plus satu jengkal (sekitar 2 meter), tanah diuruk ke dalamnya menjadi lantai, sehingga sulit dicapai air banjir. Bersama itu pintu di bagian timur laut juga diangkat setinggi fondasi. Dinding dinaikkan sampai 18 hasta dan diberi atap, dengan ditopang dua deret tiang yang masing-masing terdiri atas tiga buah tiang dari bekas kapal Romawi yang kandas dan terdampar di Laut Merah masa itu. Sebuah tangga untuk naik turun juga disiapkan. Kakbah bebas dari banjir, isinya terlindungi dari hujan, panas dan tangan usil.

Pembangunan berjalan sesuai rencana, sampai dinding tembok mencapai tinggi 1,5 meter, saat mereka mesti menempatkan kembali batu hitam (Hajr al-Aswad) ke tempat semula, di sudut timur. Karena ini upacara suci penuh kehormatan, terjadilah perebutan antara sesama klan Quraisy dan suasana semakin panas dan tak terkendali. Dari suasana panas itu, muncul Abu Rabi’ah, kakak Walid, orang tertua di zaman itu. Ia mengemukakan usul, agar menunda keputusan dan menyerahkannya kepada orang pertama yang masuk dari pintu Shaffah. Hadirin setuju dan melihat ke arah pintu dengan tegang. Secara kebetulan, Muhammad muncul di sana. Orang-orang datang mengeremuni dan meminta pemecahan masalah yang sedang mereka hadapai.

 Kebijakan Muhammad

Kebijakan Muhammad melahirkan satu keputusanan yang sangat mengesankan, ia merentangkan selendangnya ke dekat batu hitam kemerahan itu. Dengan hati-hati ia tunduk, mengangkat batu lonjong yang bergaris tengah sekitar 45 dan 25 Cm itu, dan diletakkan di atas kainnya. Muhammad memerintahkan pemimpin setiap klan untuk memegang ujung kain. Lalu, mereka mengangkat secara bersama dan lega dengan cara mulus ini. Muhammad mengambil Hajr al-Aswad itu dan menaruh ditempatnya. Suasana menjadi dingin, ketegangan lenyap dan Muhammad dielu-elukan orang. Itulah satu puncak reputasi Muhammad dan mempertebal nama julukan atas dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya (al-Amin).

Setelah bangunan rampung, dekorasi disiapkan dan fungsi Kakbah kembali sebagai semula. Sebuah lampu emas dan sebuah yang perak digantungkan kembali di dalamnya. Juga beberapa alas dari kulit yang bulunya tak dicukur, serta pedang dan kijang emas peninggalan Abdul Muthalib. Patung Hubal dinaikkan dan diletakkan di pojok. Dinding tiang dan loteng dipenuhi gambar pohon dan nabi-nabi. Betapun kecilnya, Muhammad telah mengambil bagian secara terhormat, dan secara fisik ikut melanjutkan apa yang dibangun moyangnya, Nabi Ibrahim as.

Ini barangkali adalah sebuah kelanjutan moral dan agama bagi Muhammad tanpa setahunya. Ikutnya Muhammad menempatkan batu hitam (Hajr al-Aswad) yang dipegang Ibrahim itu adalah suatu simbolisme betapa kedua belah pihak telah ikut mengagungkan Kakbah. Keduanya telah memegang simbol keesaan Allah, lambang persatuan umat Islam. Dan kini setelah Kakbah menjadi pusat peribadatan umat Islam, maka setiap muslim yang mampu, wajib berhaji ke Baitullah di Mekkah al-Mukaramah seperti sedang dilaksanakan oleh saudara-saudara kita saat ini. Labbaikallahumma labbaik.

Wakil Rakyat

BERANGKAT dari sebuah harapan, setiap rakyat Indonesia memilih wakilnya untuk duduk di kursi parlemen melalui pemilihan umum legislatif (Pileg). Di mana para wakil tersebutlah yang akan menjadi penyampai suara rakyat, suara untuk hidup sejahtera, adil dan damai di negerinya. Bukan hidup yang bertambah sulit karena kebijakan-kebijakan otoriter penguasa yang tak peduli akan nasib orang-orang yang dipimpinnya. Bukan pula hidup yang kekurangan karena menghidupi orang-orang yang menjadi wakil mereka di parlemen.

Melalui pemilihan umum legislatif, rakyat dengan bebas tanpa intervensi dari pihak manapun menentukan orang-orang yang dianggap pantas menjadi wakil mereka. Untuk ini semua, tentunya orang yang dipilih bukanlah sembarangan. Meminjam istilah Iwan Fals dalam syair lagunya “Surat Buat Wakil Rakyat” yang berbunyi: “…di kantong safarimu kami titipkan masa depan kami dan negeri ini…” Kurang lebih demikianlah secara garis besar harapan rakyat yang diamanatkan kepada wakilnya.

 Di tangan rakyat

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wakil merupakan sebuah kata benda, yang bermakna orang yang dikuasakan menggantikan orang lain. Dalam sistem pemerintahan demokrasi, di mana kedaulatan berada di tangan rakyat maka rakyatlah yang sebenarnya mempunyai kekuasaan paling besar untuk mengatur kehidupan negaranya. Karena jumlah rakyat yang demikian banyak, dibutuhkanlah wakil untuk menyampaikan suara mereka dalam setiap pengambilan kebijakan publik. Jadi mereka yang saat ini berada di kursi legislatif adalah atas kepentingan rakyat yang mereka wakili.

Menjadi wakil rakyat jelas bukanlah hal yang mudah, terutama karena tanggung jawab yang harus diembannya sebagai orang yang diberi amanah. Dengan tanggung jawab yang tidak ringan tersebut, terkadang muncul sebuah pertanyaan, mengapa jabatan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) diperebutkan? Nyatanya memang tidak sedikit calon anggota legislatif (caleg) yang harus kita pilih ketika berlangsung Pileg. Setidaknya inilah yang membuktikan adanya persaingan yang memperebutkan jabatan.

Mereka yang duduk di kursi legislatif tersebut sudah pasti mereka yang dianggap mampu untuk bersikap dan bertindak secara tegas membela kepentingan rakyat. Namun realitasnya tidak jarang rakyat dibuat terkejut dengan pemberitaan-pemberitaan tetang tindakan yang diluar dugaan. Misalnya saja yang beberapa waktu lalu diberitakan media, terjadi di Sulawesi Selatan (Sulsel). Seorang anggota DPRD setempat dilaporkan memukul seorang wanita yang tengah hamil 3 bulan.

Meski hal tersebut tidak ada kaitannya dengan persoalan dalam jabatannya, namun jelas tindakan seperti ini menunjukkan ketidakpantasan sikap yang dimiliki seorang wakil rakyat. Di antara yang bisa membuat rakyat menaruh kepercayaan adalah bagaimana para wakil tersebut bisa menunjukkan kepribadian yang baik. Ketika terjadi tindakan seperti ini, yang dilakukan seorang wakil kepada orang yang diwakilinya jelas menunjukkan sesuatu yang tidak semestinya.

Selanjutnya, wacana yang berhembus di publik bahwa DPR adalah lembaga terkorup, seakan begitu saja berlalu dari pandangan mereka, tanpa adanya suatu tindakan menanggapi. Seperti yang dikatakan oleh seorang peneliti Forum Masyarakat Pemantau Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (17/9/2013).

“Kita berhadapan dengan DPR yang tampak tak hanya sebagai lembaga terkorup, tetapi juga DPR yang berhati baja. Semua kritik dan teriakan publik tersebut, sejauh ini tak kurang lantang disuarakan, tetapi pada saat yang sama DPR seakan ‘mati rasa’ untuk sekadar melakukan upaya reformasi serius secara kelembagaan demi membersihkan lembaga itu dari korupsi,” kata Lucius.

Rakyat pun dibuat bingung bagaimana bisa orang yang menjadi wakil-wakil mereka di parlemen berbuat demikian itu. Kepedulian kepada rakyat yang ditampakkan menjelang Pileg seakan tak berbekas apa-apa. Entah bagaimana bisa mereka yang awalnya nampak sebagai pejuang rakyat tiba-tiba berbalik menjadi musuh yang begitu mematikan.

Apakah memang demikian cepat perubahan sikap yang terjadi setelah mereka berhadapan dengan jabatan dan kekuasaan? Atau memang hal semacam ini adalah sekenario yang direncanakan sejak awal untuk dijalankan secara bertahap. Asumsi-asumsi negatif muncul begitu saja karena kekecewaan mendalam atas perilaku anggota dewan yang cukup memprihatinkan.

Kepentingan rakyat yang harusnya diusung pun entah akhirnya dikemanakan. Mereka bekerja tidak lagi untuk rakyat, namun untuk kepentingannya pribadi, keluarga dan kelompoknya. Rupanya jabatan memang mampu membutakan nurani manusia untuk bisa menjaga amanah yang diberikan di pundaknya.

Padahal, jika dilihat dari sudut pandang agama Islam yang mayoritas dianut oleh masyarakat Indonesia, termasuk juga mereka para wakil rakyat, terdapat suatu hadis yang menyatakan: “Celakalah para pemimpin, celakalah para pejabat, celakalah para pengemban amanat. Nanti pada hari kiamat mereka pasti berharap tidak pernah sama sekali memegang jabatan itu, (amanah itu telah membuat) tengguknya bergantung pada bintang, terombang ambing di antara langit dan langit.” (HR. Ahmad).

 Lebih baik mundur

DPR tidaklah tepat jika hanya digunakan sebagai mata pencarian untuk menambah kekayaan diri. Jika memang mereka, para wakil rakyat tidak siap dengan tanggung jawab yang diembankan kepadanya, lebih baik mereka mundur saja. Sebelum, sikap-sikapnya semakin mengecewakan rakyat. Harusnya sebagai orang yang dianggap memiliki kecakapan intelektual, mereka sadar diri atas tindakan yang dilakukan. Ini setidaknya juga bisa menjadi bahan renungan para Caleg 2014 yang namanya telah bertebaran di kanan-kiri jalan.

Jabatan yang diperebutkan untuk diduduki bukanlah sekadar profesi sebagaimana profesi lain. Namun yang lebih urgen adalah kesiapan untuk mengabdi, memperjuangkan aspirasi rakyat. Sudah cukup penderitaan dan kekecewaan yang diterima masyarakat Indonesia atas perilaku-perilaku tak pantas yang dilakukan wakil rakyat. Rakyat Indonesia telah merindukan kemajuan negaranya melalui wakil-wakilnya yang cerdas, dan berakhlak mulia.

Kurban dan Ketaatan

“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi diperintahkan untuk menyembelihmu. Maka pikirkanlah, apa pendapatmu? Ia (Ismail) menjawab: “Wahai ayahku, laksanakan apa yang diperintah Allah kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku orang yang sabar” (QS. Ash Shaafat: 102).

Berada jauh dari anak, batin terasa begitu menderita.  Apalagi kalau anak disuruh jadikan sebagai kurban dengan cara disembelih sendiri, tak terbayangkan bagaimana hancurnya perasaan.  Namun demi mengutamakan ketaatan kepada Allah, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tetap rela mengorbankan anak semata wayangnya, dengan terlebih dahulu menanyakan pendapat anaknya dan dituruti dengan hati yang tulus.

Nabi Ibrahim pun melaksanakan perintah kurban itu, meskipun kesedihan masih membuncah di hatinya.  Dan ternyata kemudian, Allah Yang Maha Tahu keikhlasan hambanya, sehingga digantikan kurbannya dengan kibas.  Nabi Ibrahim pun mendapati anaknya Ismail dalam keadaan sehat seperti sedia kala.

Demikian besar pengorbanan Nabi Ibrahim, bagaimana dengan kita yang cuma diajak untuk mengurbankan sedikit harta benda untuk dibagikan kepada sesama manusia?  Mari buktikan ketaatan kepada Allah dengan berkurban.  Itu perintah Allah, sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah” (QS. Al-Kautsar: 1-2).

Mengaku Baik

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS. Al Baqarah: 11-12).

Mengaku diri baik dan beriman, siapa saja bisa melakukannya. Kadangkala sebahagian orang mendukung kata-katanya itu dengan memakai pakaian yang di luarnya menampakkan kebaikan dan kesalihan. Namun bila apa yang ada di balik sebahagian pengakuan atau pakaian, tak jarang didapati sejumlah niat dan pelaksanaannya yang tidak searah.

Kenyataan yang sama bukan hanya terdapat pada pribadi seseorang, tetapi juga pada lembaga-lembaga yang katanya mengurus keperluan rakyat. Di antara sejumlah lembaga yang terang-terangan menyebut diri membantu, menyelesaikan masalah, mengedepankan keadilan, memperjuangkan kebenaran, dan sejenisnya. Hampir bisa dipastikan, tak ada satupun lembaga pemerintah yang sengaja dibentuk yang tujuannya bukan untuk kepentingan rakyat banyak, tetapi untuk kemaslahatan. Karena itu, seharusnya tak ada rakyat yang perlu takut berhadapan dengannya atau tak perlu kuatir tidak terlayani.

Namun, kenyataan yang terjadi tak jarang sebaliknya. Membantu tanpa pamrih sudah menjadi hal yang langka. Penyelesaian masalah seringkali berubah makna menjadi memperpanjang dan memperumit masalah. Keadilan dan kebenaran sudah sangat sulit didapat. Memberdayakan umat berubah menjadi memperdaya umat. Suka atau tidak suka, harus kita akui bahwa sebahagian kita bagaikan sudah tak mampu lagi membedakan antara kebenaran dengan kebatilan. Ketika kebatilan dilakukan, tak terasa itu sebagai hal yang bersalah dan berdosa. Akibatnya, perbuatan-perbuatan berdosa berlangsung terus nyaris tak tercegah.