Shalat Jumat bagi Orang dalam Perjalanan (Safar)

Padahal shalat Jumat adalah fardhu bagi yag memenuhi syarat, sesuai sabda Rasulullah saw: “Betapa ingin rasanya aku memerintahkan seseorang untuk mengimami shalat kemudian aku membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jumat bersama-sama dengan penghuninya” (HR. Muslim).

Nabi juga bersabda: “Hendaknya tidak ada lagi orang yang meninggalkan shalat Jumat atau Allah akan mengunci mati hati mereka dan mereka tergolong orang-orang lalai” (HR. Muslim). Beliau juga bersabda: “Barangsiapa meninggalkan shalat Jumat tiga kali karena sengaja meremehkannya, niscaya Allah akan mengunci mati hatinya” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan Ibnu Khuzaimah).

Dari hadis-hadis di atas, jelas sekali kewajiban atas kita untuk menunaikan shalat Jumat, sehingga shalat Jumat adalah wajib (fardhu ‘ain), sesuai firman Allah swt: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (menunaikan shalat Jumat)” (QS. Al-Jumu’ah: 9).

Kewajiban ini tentunya bagi orang yang memenuhi syarat-syaratnya, yang antara lain adalah muqimin atau tidak musafir. Berbeda halnya dengan anda yang memang dalam keadaan bepergian atau musafir. Artinya shalat tersebut tidak diwajibkan kepada orang-orang yang musafir atau bepergian sejarak yang membolehkan qashar shalat, yaitu lebih kurang 85 km. Meskipun demikian, menurut jumhur fuqaha (afli fiqh) bila orang tersebut mengikuti shalat Jumat, maka shalat Jumat-nya sah dan tidak perlu melaksanakan shalat Zuhur.

Jadi, anda tidak boleh melaksanakan shalat Jumat bersama tim. Tapi boleh menggabung dengan jamaah di masjid yang ada mendirikan Jumat atau anda menunaikan saja shalat Zuhur empat rakaat karena tidak sempat atau tidak dapat bergabung dengan jamaah Jumat, karena tidak menemukan mesjid. Inilah yang namanya keringanan (rukhshah) bagi orang yang bepergian (musafir) untuk kebajikan.

Sedangkan masalah yang kedua, madzi. Sesungguhnya madzi adalah cairan putih yang keluar dari kemaluan seseorang bila ia tergoda atau terangsang syahwatnya, tetapi tidak terpancar seperti mani. Status madzi adalah najis seperti air seni, air besar dan sejenisnya, yang harus disucikan terlebih dulu sebelum ber-wudhuk.

Seandainya seseorang mengeluarkan madzi sedang shalat, baik shalat Jumat ataupun lainnya, maka ia harus langsung menghentikan shalat, menyucikan kemaluannya dari madzi, kemudian ber-wudhuk lalu melakukan shalat kembali dari awalnya. Kalau shalat Jumat atau berjamaah, ia dapat saja mengikuti shalat bersama jamaah seberapa rakaat dapat (masbuq).

Kalau ia sempat dapat satu rakaat, maka yang bersangkutan dapat menambah satu rakaat lagi setelah imam memberi salam dan menurut jumhur, shalat Jumatnya dinilai sudah memadai, sesuai dengan sabda Rasulullah saw: “Siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat, maka ia telah mendapatkan shalat” (HR. Bukahri dan Muslim). Beliau juga bersabda: “Siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat Jumat atau selainnya, maka ia telah mendapatkan shalat” (HR An-Nasaa’i) .

Dari hadis tersebut, para ulama memahami bahwa, apabila yang bersangkutan tidak sempat mendapatkan satu rakaat shalat Jumat, maka ia harus melaksanakan shalat Zuhur secara lengkap yaitu empat rakaat. Demikian, walahu a’lamu bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s