Ombudsman, Mengawasi Negara?

PADA pertengahan 2012 lalu, beberapa lembaga pemerintahan maupun kementerian negara RI membuka kesempatan kepada Warga Negara Indonesia untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Kesempatan tersebut kerap dinanti-nantikan oleh hampir kebanyakan penduduk negeri ini. Entah masih dengan alasan penjaminan hidup di masa tua, atau barangkali ada niat yang lebih untuk mengabdikan diri dalam melayani segenap kepentingan bangsa dalam tatanan pemerintahan negeri ini.

Menjadi cibiran yang amat memprihatinkan ketika ada orang yang lebih memilih hidup dengan tekun menghasilkan karya sendiri dari pada menjadi pelayan negara dengan etos kerja yang seadanya. Namun, itulah faktanya, kebanyakan penduduk negeri ini hanya memilih menjadi pelayan negara dengan mengandalkan etos kerja seadanya, sehingga kerap mengabaikan potensi diri yang semestinya akan menjadi modal kuat dalam menunjang kemandirian bangsa, yakni apabila dimulai dengan kemandirian individu dalam mengelola potensi diri.

Upaya mengelola potensi diri seharusnya menjadi bagian dari agenda pemerintah dalam menata sumber daya bangsa. Tapi, apa yang bisa dibenahi saat ini, menyaksikan sistem pendidikan yang semestinya bisa mendidik dan membina generasi muda, namun kenyataannya hanya menjadi tempat peredaman potensi diri. Lembaga pendidikan kerap menjadi tempat pengerdilan semangat untuk membangun bangsa, apalagi orientasi yang paling diagungkan oleh para guru adalah menjadi abdi negara atau sebatas PNS saja.

Tidak jarang kita mendengar seseorang yang sudah mendapatkan tempat honor atau sebatas menjadi orang kantoran saja dinilai sudah cukup berhasil dan beruntung. Sementara orang-orang yang masih dalan tataran perjuangan menghasilkan karya menjadi sorotan keprihatinan tersendiri dan dianggap terlalu naif. Demikian semangat anak negeri saat ini, yang hanya bermimpi menjadi pelayan negara tanpa memiliki niat yang tulus untuk membangun negara menjadi lebih baik.

 Pelayan negara
Semestinya adalah cita-cita mulia apabila bermimpi menjadi PNS dalam rangka membangun negeri menjadi lebih maju dan beradab. Tapi apa yang terjadi dengan negeri kita saat ini? Benar saja semua hanya berusaha menopang hidup dari anggaran pendapatan negara tanpa berpikir lebih untuk menambah aset negara. Kalaupun ada yang memiliki aset lebih dalam menyejahterakan umat, maka itu hanya sekadar membayar popularitas yang didapat dengan hiasan-hiasan pemakmuran masyarakat banyak.

Padahal, kalau dilihat prosentase pegawai negeri saat ini, bukan hal yang tidak mungkin masyarakat kita akan merasa lebih aman dan tenteram. Bagaimana tidak, fungsi seharusnya pelayan negara adalah memberikan pelayanan dengan sebaik mungkin. Konsep pelayanan yang selama ini terjadi, para pelayan negara cenderung merasa lelah mengurusi rakyat. Inilah nilai-nilai kemanusiaan yang semakin luput dari niatan seseorang ketika memilih menjadi abdi negara. Para perawat puskesmas semakin jenuh dengan para pasiens, para guru merasa semakin capek dengan tingkah murid-muridnya, aparat penegak hukum semakin bosan menindaklanjuti beragam kasus.

Ketegangan semangat yang demikianlah yang terjadi dalam institusi pemerintahan kita saat ini, sehingga pelayanan untuk masyarakat semakin tidak diindahkan dan hanya bekerja seadanya ‘toh gajinya tetap akan ada setiap bulannya, bukankah inilah enaknya jadi pns”. Bukan juga para abdi negara tersebut meninggalkan tugasnya sama sekali, tapi memfungsikan semua elemen serta evaluasi yang sinergis terhadap etos kerja masih sangat sulit dilakukan.

Dibentuknya suatu lembaga pengawasan negara atas dasar keresahan presiden Abdurrahman Wahid merupakan hal positif yang patut diapresiasi. Ombudsman merupakan lembaga negara yang bertugas mengawasi seluruh instansi pemerintahan baik itu BUMN, BUMD maupun swasta yang bergerak dalam hal pelayanan publik. Meskipun pembentukannya hanya berdasarkan Keppes No.44 Tahun 1999, namun semangat pembangunan dalam hal pelayanan publik menjadi kekuatan besar untuk menciptakan pelayanan yang lebih baik terhadap masyarakat luas.

Sepanjang perjalanannya dimulai dari 20 Maret 2000, Ombudsman sudah menangani ribuan kasus terkait pelayanan publik baik yang berhubungan dengan pengadilan, lembaga pendidikan, kesehatan dan lainnya. Meningkatnya respons yang diberikan kepada Ombudsman menunjukkan angin segar bagi cita-cita reformasi hukum dan dunia peradilan di Indonesia. Tinggal bagaimana lembaga-lembaga terkait berupaya meningkatkan mutu dan kualitas respons yang diberikan. Dalam perjalanannya, Ombudsman mendapat kekuatan yang lebih tinggi, yakni ketika adanya pengesahan UU No.37 Tahun 2008 tentang Ombudsman. Namun, kekuatan moral dan wibawa ombudsman cukup menjadi modal mengawasi negara dengan lebih baik.

 Menegakkan keadilan
Apabila dianalisa kembali, demikian pentingnya negara ini memiliki pengawas di samping berbagai komponen negara yang juga memiliki tugas untuk menegakkan keadilan dan menyejahterakan rakyat. Apa yang salah kalau bukan semangat para abdi negara itu sendiri yang bukan bekerja untuk kemaslahatan ummat, tapi lebih hanya sebagai upaya menopang hidup dari negara. Bagaimana mungkin negara kita akan mengalami kemajuan, sementara negara yang merupakan simbol peradaban manusia hanya didiami oleh individu-individu yang justru memanfaatkan kepentingan diri di atas kepentingan khalayak.

Sekali lagi, menjadi catatan penting yang masih harus terus diapresiasi bahwa kelahiran Komisi Ombudsman Nasional yang selanjutnya menjadi lembaga negara merupakan semangat pengawasan yang harus terus dikawal oleh kita sebagai warga negara yang baik. Bagaimanapun, pemerintah sudah berusaha membangun pengawasan terhadap negara secara lebih baik, yakni dengan mengawasi seluruh kinerja pelayan negara guna mencapai kesejahteraan dan ketentraman bagi warga negara Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s