Membeda-bedakan

“Sesungguhnya hancurnya umat terdahulu karena menegakkan hukum secara pilih kasih. Jika yang melakukan kesalahan, orang lemah, mereka menegakkan hukum. Namun jika yang melakukannya orang terhormat dan terpandang, mereka membiarkannya” (HR. Bukhari).

Kita sering terperangkap pada istilah “ketidak-adilan hukum”, meskipun yang tidak adil adalah orang-orang yang berada di balik hukum itu.  Tak jarang hukum tidak ditegakkan dengan adil, meskipun melalui ayat Alquran, Allah meminta hamba-hambaNya untuk melaksanakan hukum dengan adil (QS. an-Nisaa’: 58). Dengan demikian, terlalu berani sebahagian manusia berpaling dari ayat-ayat Allah.

Banyak contoh suruhan Allah diabaikan.  Untuk orang-orang terhormat karena jabatan atau kekayaannya, hukum kadangkala tidak ditegakkan atau sengaja dilambat-lambatkan keputusannya sehingga ingatan masyarakat tak lagi tertuju ke sana. Penegakannya pun menjadi tak jelas. Sedangkan untuk rakyat biasa, hukumannya begitu cepat dilaksanakan. Semua ini menunjukkan bahwa orang-orang demikian mengabaikan keridhaan Allah, demi mencari keridhaan orang-orang terhormat atau orang-orang kaya.

Padahal sangat besar bencana akibat tak melaksanakan hukum secara adil.  Kehancuran umat menjadi tak terelakkan.  Di antara kehancurannya ialah hancurnya mental manusia.  Hukum menjadi diperjualbelikan, sehingga perbuatan terlaknat seperti suap terjadi di mana-mana. Kasih sayang dan tolong-menolong karena Allah di antara umat manusia menjadi sirna.  Sehingga wajar pelakunya mendapat azab dari Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s