Realitas Rokok dan Generasi Muda

SELAMA masyarakat masih di selimuti kabut asap rokok, selama itu pula kesadaran tentang bahaya merokok akan terus di gembar-gemborkan. Meskipun isu rokok hanya cerita klasik, namun dilema terhadap ramainya generasi muda yang kecanduan rokok bukanlah cerita klasik. Ia justru menjadi isu yang kontemporer karena belum adanya penyelesaian yang nyata dan jitu dari masa ke masa.

Diperkenalkan oleh seorang penjelajah asal Eropa bernama Christophorus Colombus pada 1492, Colombus telah mengabarkan bahwa ia melihat penduduk asli (Indian) di benua Amerika gemar menghisap tembakau. Dari sini, para penjelajah asal Eropa kemudian terbiasa menghisap tembakau dan membawa kebiasaan merokok kemana saja mereka pergi (Winter, 2000). Kebiasaan merokok masih membudaya sehingga kini. Tanpa disadari merokok telah memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan umat manusia di seluruh dunia.

 Rokok di Malaysia

Sebagian masyarakat di dunia telah sadar akan bahaya yang diberikan oleh rokok. Rokok ibarat cerobong asap berukuran kecil telah menjadi sumber pencemaran udara dan memberi dampak yang berbahaya terhadap kesehatan manusia. Ramai dari kita tahu, rokok dapat menyebabkan berbagai penyakit krokik seperti kanker, jantung, impotensi dll.

Sadar akan pentingnya masyarakat yang sehat, beberapa negara maju seperti Amerika, Australia dan Eropa telah membuat peraturan yang ketat terhadap isu rokok. Tidak perlu jauh-jauh ke Amerika, Australia atau Eropa. Di Asia ada Malaysia yang serius menangangi masalah rokok ini.

Masyarakat di negeri jiran mulai melihat budaya merokok sebagai kebiasaan buruk, tidak sehat bahkan bukan lagi sesuatu yang terlihat keren. Tidak mudah menemukan iklan rokok di sana, dan yang menarik adalah media massa tempatan tidak lagi menyediakan space iklan rokok demi melindungi kesehatan masyarakatnya terutama kalangan pemuda. Iklan rokok memang diharamkan di Malaysia.

Harga rokok pun terbilang mahal yakni RM 10.20 atau sekitar Rp 30.600. Pemerintah Malaysia yakin, dengan menaikkan harga rokok, minat masyarakat mengonsumsi rokok dapat dikurangi. Dengan harga tinggi, kalangan muda juga akan kesulitan untuk membeli sebatang atau sebungkus rokok. Keunikan lainnya cara pemerintah Malaysia menekan jumlah perokok adalah meletakkan berbagai gambar penyakit mengerikan yang disebabkan oleh rokok pada setiap bungkusnya.

Pemerintah Malaysia menganggap rokok sebagai musuh yang perlu diperangi. Melalui Kementerian Kesihatan Malaysia, berbagai kampanye anti rokok juga telah dilancarkan secara intensif. Satu kampanye yang populer saat ini adalah slogan “Tak Nak Merokok”, yang bertujuan untuk memberi kesadaran tentang bahaya merokok dan coba menekan jumlah pecandu rokok terutama kalangan remajanya.

 Rokok di Indonesia

Di Indonesia, iklan rokok dengan mudah dapat kita jumpai. Medium seperti billboard terpampang mulai dari ukuran besar hingga ukuran kecil yang kebanyakannya dikuasai oleh iklan rokok. Tidak tanggung-tanggung, beberapa perusahaan rokok bahkan menyediakan sebuah televisi reklame berlayar besar. Media promosi ini, biasanya diletakkan pada kawasan strategis dimana ramai orang berlalu-lalang. Selain itu, media massa seperti televisi, radio, koran, dan majalah masih memuat iklan rokok.

Nichter dkk (2009) dalam jurnalnya menyebutkan, iklan rokok di Indonesia termasuk yang paling agresif dan inovatif di dunia. Jargon-jargon seperti “go ahead”, “gak ada lo gak rame”, “pria punya selera” berperan memainkan sisi emosi yang coba mengonstraksikan kesan maskulinitas, modernitas, dan globalisasi. Nichter dkk juga mengatakan, terkadang komentar yang coba ditampilkan dari iklan rokok merefleksikan situasi politik yang sedang berlaku di Indonesia.

Jika dilihat lebih detil, iklan rokok juga sering menggunakan model dari kalangan pria dan wanita yang masih tergolong muda. Pada pandangan penulis, pemakaian model pria dan wanita muda ini, adalah refleksi bahwa generasi muda kita merupakan target utama dalam pemasaran rokok.

Dalam penelitian yang dibuat oleh Kim Choe et al. (2004), remaja laki-laki Indonesia adalah pecandu rokok tertinggi di Asia. Jumlahnya mencapai 82% dan rata-rata berusia 15-19 tahun. Di Aceh sendiri jumlah perokok di kalangan muda mencapai 61% (Hongkrailert & Chompikul).

Iklan rokok diyakini telah memberi pengaruh yang tingginya terhadap meningkatnya jumlah perokok muda di Indonesia umumnya dan di Aceh khususnya. Selain itu orang tua yang terbiasa merokok juga salah satu penyebab ramainya remaja menjadi pecandu rokok (Reynolds, 1999)

Rumah seharusnya menjadi tempat yang aman, nyaman, dan kondusif bagi anak-anak. Namun orang tua sering merusak kenyamanan rumah karena kebiasaan merokok mereka. Orang tua merampas hak anak-anak untuk menghirup udara yang bersih. Kepulan asap rokok memenuhi setiap sudut ruang yang ada di rumah dan dengan terpaksa harus dihirup oleh seluruh anggota rumah termasuk anak-anak. Tanpa disadari anak-anak sebenarnya mengobservasi kebiasaan orang tuanya dan meniru tingkah polah orang tua (Johansson, Hermansson, & Ludvigsson, 2004).

Kebiasaan orang tua memerintahkan anak-anak untuk membeli rokok juga sering kita jumpai di kalangan masyarakat, terutama di Aceh. “Nak tolong belikan ayah rokok satu bungkus, ini duitnya,” kata si orang tua sambil mengulurkan selembar uang. Orang tua tidak menyadari efek dari sikap yang tidak bijaksana ini.

Secara tidak langsung, orang tua telah mengarahkan anak-anak untuk menjadi pecandu rokok berikutnya. Anak-anak telah di ajari cara bertransaksi membeli rokok. Bukan tidak mungkin tanpa sepengetahuan orang tua, anak akan membeli rokok dan mengatakannya sebagai milik orang tua, tetapi sebenarnya rokok tersebut untuk mereka konsumsi sendiri.

 Sulit diimplementasikan

Melarang kalangan “generasi tua” untuk tidak merokok atau berhenti merokok mungkin jadi hal yang sulit untuk diimplementasikan. Namun, mencegah generasi muda kita untuk tidak menjadi konsumen rokok mungkin dapat dilaksanakan sejak dini.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah perlu mencontoh Malaysia dalam memberikan kesadaran tentang bahaya merokok. Langkah-langkah konkret yang telah dilaksanakan di sana dapat diimplementasikan dalam peraturan daerah untuk menekan jumlah perokok di kalangan generasi muda Aceh.

Gubernur juga dapat memerintahkan para pedagang agar tidak menjual rokok jika si pembeli adalah anak-anak atau remaja. Hal ini penting dilaksanakan mengingat di Aceh, rokok dengan mudah didapati karena jumlah pedagang rokok pun sangat melimpah.

Paparan iklan mungkin masih sulit dihindari, namun orang tua mungkin dapat memberikan pemahaman mengenai kerugian akibat kebiasaan merokok. Sebelum itu, orang tua mestilah menjadi contoh yang bijak bagi anak-anak, agar pesan yang disampaikan tidak dikritisi karena melihat orang tuanya sendiri tidak memberikan contoh yang baik.

Guru juga perlu memberikan pendidikan dan menyosialisasikan bahaya merokok kepada murid-murid di sekolah. Pembinaan juga perlu diberikan kepada murid yang terlanjur pernah mencoba atau bahkan telah menjadi pecandu rokok.

Jika pihak-pihak seperti orang tua, guru, dan pemerintah bekerja sama mengawal generasi muda kita, diharapkan jumlah perokok pada kalangan generasi muda dapat di cegah dan berkurang dari waktu ke waktu. Keselamatan, kesehatan, dan masa depan mereka merupakan tanggung jawab kita bersama.

3 thoughts on “Realitas Rokok dan Generasi Muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s