Membumikan ‘Akhlaqul Karimah’

MAULID Nabi Muhammad saw yang setiap tahunnya kita peringati sampai tiga bulan berturut-turut –Maulid Awal, Maulid Tengah, dan Maulid Akhir– seyogianya bukan hanya sekadar nostalgia sejarah. Lebih dari pada itu, maulid menjadi wahana membumikan perikehidupan dan perjuangan Nabi dengan merefleksikannya dalam kehidupan kita untuk menyiar dan menegakkan kalimatullah fil ardh.

Nilai-nilai tersebut menjadi uswatun hasanah (contoh teladan yang baik), menjadi roh dan api yang akan menyulut semangat perjuangan kita agar tetap eksis dan tak pernah padam dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Muhammad saw, nama yang begitu agung. Jutaan bibir setiap hari menyebutnya. Jutaan jantung setiap saat berdenyut berulang kali sampai akhir zaman.

Muhammad Husain Haikal dalam bukunya Sejarah Hidup Muhammad, menulis: “Pada setiap hari di kala fajar menyingsing, lingkaran-lingkaran putih di ufuk sana mulai nampak hendak menghalau kegelapan malam, ketika itu seorang muazzin bangkit, berseru kepada setiap makhluk insani, bahwa bangun bersembahyang lebih baik dari pada tidur. Ia mengajak mereka bersujud kepada Allah, membaca shalawat buat Rasulullah.”

Bukan hanya dalam shalat seorang muslim mengucapkan shalawat buat Rasulullah. Akan tetapi, setiap kali mendengar nama Muhammad Saw disebutkan, seorang muslim selalu menyahut dengan doa shalawat: Shallallahu alaihi wasalam (semoga Allah melimpahkan kesejahtraan dan keselamatan kepadanya).

Muhammad saw secara ragawi, memang telah lama wafat. Daging dan tulang belulang telah menyetu dengan tanah. Namun Nabi tetap hidup dalam jiwa umatnya, seperti diungkapkan budayawan Emha Ainun Najib: “Wajah Muhammad kini terdiri atas seluruh nilai prilakunya dulu. Cahaya wajah itu terbuat dari sujud-sujud sembahyangnya. Badannya terbikin dari amal bajik selama terlibat menghancurkan kebudayaan jahiliah. Kaki dan tanganya dirakit dari pahala dan jasa social yang kelak menolongnya memperoleh tempat paling khusus di Surga Jannatun naim.”

 Akhlaqul karimah

Muhammad saw berhasil mengembankan misi kerasululannya, membangun tamaddun Islamiah, bukan karena kekuatan senjata, teror dan kekerasan. Ia berhasil karena mengedepankan kearifan, lemah lembut dan damai. Kepada kawan dan lawan ia membumikan pesan Alquran, “Bil hikmah wal mauidhatil hasanah.”

Konon, suatu ketika datang menjumpai Rasulullah beberapa orang kaum muslimin yang kondisi fisiknya parah. Otoritarian dan kedhaliman kafir Quraisy di Mekah selama 13 tahun, membuat mereka patah dan cacat. Mereka mohon izin untuk angkat senjata, membalas kedhaliman itu. Tetapi Rasulullah menjawab, “Tahan tangan kalian dan dirikan shalat.”

Nabi sangat terkenal sebagai sosok pemaaf. Suatu waktu ketika Nabi sedang tawaf, diam-diam seorang lelaki yang bernama Fadhalah menghampiri hendak membunuhnya. Rupanya Nabi tahu, lalu menjumpainya. “Engkau yang bernama Fadhalah, kan? Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Nabi. “Tidak memikirkan apa-apa, saya sedang berzikir,” jawab Fadhalah.

Nabi tahu niat buruk lelaki itu. “Mohon ampunlah kepada Allah,” ujar Nabi sembari tersenyum manis dan meletakkan telapak tangannya ke dada lelaki itu. “Aku terkejut saat Nabi menarik tangannya dari dadaku. Sejak itu, tak seorang pun lebih kucintai, selain beliau,” ucapnya.

Ketika Rasulullah sakit keras dan menjelang ajal, ia berkata kepada orang banyak: Wahai manusia! Barang siapa punggungnya pernah kucambuk, ini punggungku, Balaslah! Barang siapa kehormatannya pernah kucela, ini kehormatanku. Balaslah! Dan barang siapa hartanya pernah kuambil, ini hartaku. Ambillah! Jangan takut akan terjadi permusuhan, karena itu bukan bawaanku!

 Mewarnai sejarah

Akhlak yang baik, memantul sangat dalam dan mewarnai sejarah  perkembangan Islam. Rasulullah telah meletakkan pondasi yang kokoh  bagi bangunan peradaban baru, yaitu tamaddun Islamiah, yang membentang lintas zaman dan generasi, lintas bangsa, negara dan warna kulit. Pondasi yang kokoh itu adalah akhlak yang baik, sebagaimana sabda Rasulullah dalam satu hadis: “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak.”

Seorang ilmuan dan sejarawan terkenal, Michael T. Hart dalam bukunya “100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah”, menulis: “Jika menilik dari luas wilayah kekuasaan, Kerajaan Arab (Islam) di era Umar Ibnu Khatab merupakan terbesar kedua dalam sejarah peradaban manusia, melebihi luasnya wilayah kekuasaan Iskandar yang Agung, dan hanya kalah oleh Kerajaan Mongolia di bawah Jengis Khan. Namun dampak pengaruhnya pada peradaban kehidupan masyarakat, Kerajaan Arab (Islam) jauh lebih kuat. Saat ini, warisan Islam telah mewarnai kehidupan masyarakat pada seluruh daerah bekas kekuasaannya dari Spanyol, Afrika Utara sampai Hindia. Sementara sisa peradanan Mongolia hampir lenyap tak berbekas dan hanya tersisa di wilayah Mongolia saja.”

Analis sejarah mengungkapkan bahwa hal itu terjadi, karena Mongolia mengelola kekuasaannya dengan otoritarian, tirani dan daya hancur fisik yang besar sebagai penakluk terhadap rakyatnya. Sebaliknya Arab (Islam) mengelola kekuasaannya dengan mengedepankan keteladanan dan moralitas yang baik dari pemimpinya.

Allama Maulana Muhammad Iqbal, ulama besar dan pujangga terkenal dari anak benua India mengatakan bahwa Islam itu bagaikan matahari. Ia tenggelam di suatu wilayah, namun terbit dan bersinar di wilayah lain. “Islam bagaikan matahari, akan senantiasa eksis dan bersinar sampai akhir zaman, karena pondasinya adalah akhlaqul karimah,” ujar Iqbal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s