Anak Haram

Siapa itu anak haram? Dalam benak orang awam, anak haram didefinisikan sebagai mereka yang lahir di luar nikah. Pandangan itu benar, namun sempit. Ada pemahaman yang lebih luas. Anak haram adalah mereka yang lahir dari sebuah totalitas ‘sistem produksi’, baik sebagian atau keseluruhannya dilakukan secara haram. Islam itu kaffah. Sesuatu harus dinilai menyeluruh. Jika bicara sistem, maka harus dilihat secara utuh. Mulai dari ‘input’, ‘proses’, dan ‘output’.

Anak hasil zina adalah output yang lahir dari sebuah ‘proses’ yang haram, yakni tanpa nikah. Sementara ada banyak anak lain yang lahir justru dari ‘input’ yang haram, meskipun ‘proses’nya halal.  Output dari ‘input’ haram inilah yang setiap hari banyak lahir di sekeliling kita, bahkan mungkin dalam keluarga kita. Boleh jadi itu anak kita, atau kita sendiri.

Seorang ayah, atau ibu, yang bekerja dengan cara yang haram akan menghasilkan pendapatan yang haram. Kerja-kerja tersebut dapat berupa merampok, mencuri, menipu, korupsi, atau manipulasi. Pendapatan yang berasal dari usaha yang benar dan beretika pun dapat menjadi harta kotor, ketika tidak dibersihkan dengan zakat dan pengeluaran sosial keagamaan lainnya. Penghasilan haram dan kotor inilah yang kemudian menjadi rumah, pakaian, dan pangan.

Menurut Transperancy International (TI, 2011), Indonesia masih sangat korup. Kita berada pada ranking 100, dari 182 negara. Peringkat 10 besar terbersih, diduduki negara Skandinavia, Eropa, Amerika dan Australia. Ini pertanda, Indonesia termasuk negara yang masyarakatnya masih banyak makan haram. Ditambah dengan laju 1,49% pertumbuhan penduduk,  jangan-jangan menjadi indikasi tingginya angka kelahiran “anak haram”. Penelitian terbaru Mei silam di 168 kabupaten/kota di 33 provinsi diketahui, tingkat korupsi tertinggi lembaga negara dipegang oleh DPR, disusul kantor pajak, kepolisian, partai politik, dan Kejaksaan Agung (Soegeng Sarjadi Syndicate, 2012). Apakah ini dapat menjadi kesimpulan bahwa kontribusi “anak haram” paling banyak diberikan oleh lembaga-lembaga terhormat tersebut? Wallahu ‘alam. Yang jelas, di negara kita korupsi ada di mana-mana.

Maka, menjadi anak orang kaya belum menjamin keselamatan. Karena pertanyaannya, darimana orang tua kita membawa pulang semua harta. Gaji kecil, kok rumah besar. Posisi sebagai staf biasa, kok mobilnya mewah. Beruntung lah yang memiliki orang tua yang membawa pulang sesuatu untuk dimakan, walaupun pas-pasan, namun bersumber dari yang halal. Jangan sedih dengan kemiskinan orang tua. Karena boleh jadi, dalam kekurangan itulah mengalir darah yang bersih dan terbentuk genetik yang suci. Memang setiap anak terlahir dalam keadaan suci, karena ruhnya tidak pernah membawa dosa warisan. Namun tetap saja, kita adalah darah orang tua kita. Boleh jadi kita ini anak dari saripati makanan yang halal lagi baik (“anak suci”). Atau bisa jadi produk dari orang tua yang korup, anak dari saripati makanan haram (“anak haram”).

Itulah mengapa, ketika hendak berkeluarga, ada 4 alat penilai. “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang mempunyai agama, niscaya kamu beruntung” [HR. Bukhari dan Muslim]. Dalam empat perkara itu, “harta” menjadi penekanan awal. Bukan sekadar banyak harta, namun lebih kepada “kebersihan harta”. Karena dari harta yang bersih lahir anak yang bersih. Di hadist tersebut, faktor “anak siapa” (keturunan) juga muncul lebih awal dalam urutan pilihan, dibandingkan elemen “agama”. Padahal, menurut logika awam, bukankah yang pertama harus dilihat adalah “agamanya”?

Ternyata tidak. Karena awal seseorang menjadi baik atau buruk, bukan pada iman, melainkan genetik. Iman lebih kepada sesuatu yang dibentuk, ditanam, atau diperoleh ketika sudah besar melalui proses pengajaran. Sementara genetik bawaan lahir, komponen dasar pembentuk watak. Meski unsur keturunan penting sekali, namun pilihan “se-iman” juga sesuatu yang dianjurkan. Karena hadist tersebut mengisyaratkan, menyembah Tuhan yang sama membawa keberuntungan.

Begitu pentingnya aspek “keturunan”, maka tidak heran jika orang tua kita dulu setiap bertemu seorang anak selalu bertanya, “Soe yah keuh?” (siapa ayahmu?) Mengapa itu pertanyaannya? Karena kata pepatah, “Ayah kencing berdiri, anak kencing berlari”. Atau, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Bagaimana ayah, begitulah anak. Memang pendidikan dapat mengubah perilaku seseorang, namun tidak bisa dibantah jika genetik mewarisi sifat-sifat nenek moyang. Ada suku-suku tertentu yang secara umum dikenal memiliki kesamaan watak. Bahkan terkenal dengan sifat jahat, licik, dan ku’eh. Terkadang hal ini susah diperbaiki, sealim apa pun mereka. Diyakini ini warisan genetik yang buruk dari para indatu. Mungkin sudah menjadi hobi nenek moyangnya memakan makanan yang buruk, atau memperolehnya dengan cara-cara yang buruk.

Nabi  Muhammad SAW adalah manusia yang paling suci makanannya. Disebutkan dalam sebuah riwayat, anak beliau Fathimah lahir dari benih makanan syurga. Ini bukan hal baru. Siti Maryam sendiri diabadikan dalam Quran sebagai salah satu manusia yang mendapat hidangan makanan dari Tuhan ketika sedang bermunajat di mihrabnya [QS. 3: 37]. Dari saripati makanan syurga ini lahir seorang manusia suci, Isa Ruhullah AS. Demikian halnya dengan Rasul SAW. Diriwayatkan, sebelum melaksanakan salah satu mi’rajnya, Rasul SAW tidak diperkenankan berkumpul dengan istrinya selama 40 hari. Dan pada hari terakhir mi’rajnya, beliau mendapat hidangan dari syurga. Seusai memakannya, beliau menemui istrinya Khadijah. Dan dari nutfah makanan inilah, Khadijah mengandung  janin Fathimah.

Oleh karena itu, selain dijuluki “azzahra” (yang bersinar) dan berbagai gelar lainnya, Fathimah juga dipanggil Rasul SAW  dengan “haura insiyyah” (bidadari syurga dalam bentuk manusia, karena wujudnya berasal dari saripati makanan syurga). Riwayat ini dapat dibaca dalam berbagai sumber Ahlussunah seperti Durrul Mansur, Mustadrak Shahihain, Dzakhairul Uqbah, dan Tarikh Bagdadi.

Ibrahim AS  juga demikian. Beliau dan anak keturunannya menjadi pemimpin besar karena bagusnya genetik. Namun memiliki nenek moyang yang baik tidak selalu menjamin keturunannya akan baik. Banyak keturunan Ibrahim AS yang secara akidah melenceng, seperti Yahudi. Bahkan mereka mempopulerkan riba. Pun demikian, dengan segala model kezaliman, mereka tetap saja menjadi pemimpin politik dan ekonomi global. Ini karena genetik dan potensi besar dalam diri mereka.

Yahudi itu anak turunan Ya’qub, cucu Ibrahim dari garis Ishaq. Sementara dari jalur Ismail, lahir Muhammad  SAW, Fathimah dan anak turunannya bersama Ali bin Abi Thalib. Jika anak cucu Ibrahim dari garis Ishaq banyak melahirkan pemimpin yang menguasai ekonomi global, dari jalur Ismail muncul banyak imam yang merajai spiritualitas islam. Contohnya Muhammmad SAW, dan para imam dari keturunannya (“Ahlul Bait dan Kesultanan Melayu”, Suzanna dan Muzaffar, Washilah Enterprise, 2010).

Di Amerika, seorang calon pemimpin wajib ditelusuri “anak siapa”. Tes genetik dilakukan terhadap siapa pun kandidat presidennya. Bahkan kuda pun di sana ada nasab, arakata, atau sertifikat silsilahnya. Memang sama-sama kuda, namun ada kategori mana bibit unggul dan tidak unggul. Manusia juga tidak jauh beda. Ada yang secara darah berasal dari keluarga yang baik, ada yang tidak. Isu sertifikasi kualitas kini semakin mengemuka. Ada bangsa tertentu di dunia ini yang sudah ratusan, bahkan ribuan tahun memberi apreasiasi terhadap pencatatan keturunan. Di antaranya anak turunan Ibrahim AS dan Muhammad SAW, seperti Bani Alawi.  Memang di sisi Tuhan, yang mulia adalah yang bertakwa (QS. 49:13). Tapi tahukan kita, takwa itu bukan martabat bagi seseorang yang darah dan fisiknya tumbuh dari makanan haram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s