Tolak Naik BBM, Haruskah Demo?

KENAIKAN harga bahan bakar minyak (BBM) telah menimbulkan protes dari berbagai kalangan. Penolakan tersebut lebih sering menggunakan aksi demo dibandingkan mencari solusi lain yang lebih terpandang. Pelaku demo ini lebih sering dari kalangan mahasiswa yang katanya mahasiswa pembela rakyat. Tetapi, apakah aksi demo tersebut benar dari hati nurani atau hanya untuk mencari sensasi? Karena banyak yang kita temui di lapangan para pendemo tidak sesuai dengan ketentuan demo dan lebih banyak anarkisnya.

Demo yang dilakukan ini tak jarang dapat menimbulkan kerusuhan dan kemacetan lalu lintas, karena biasanya para pendemo melakukan aksinya di jalan-jalan raya. Tidak kenal istilah kompromi atau musyawarah lagi ketika ingin menyampaikan pendapat, asal ada keputusan atau tindakan yang tidak sesuai dengan pendapat publik, demolah yang menjadi solusinya.

Indonesia memang menganut sistem pemerintahan demokrasi, jadi segala seuatu itu diputuskan oleh kesepakatan rakyat. Semua bebas mengeluarkan pendapat dan aspirasinya, akan tetapi tentunya ada aturan dalam berdemokrasi. Namun belakangan ini makna demokrasi sering disalah artikan, terutama dalam menyampaikan aspirasi. Masyarakat sekarang lebih suka melakukan demonstrasi atau aksi unjuk rasa dibandingkan dengan menggunakan cara lain yang lebih terpelajar, misalnya dengan memanfaatkan media atau musyawarah untuk mencapai suatu kesepakatan. Jika dicermati lagi sebenarnya masalah-masalah tersebut bisa didiskusikan tanpa harus melakukan demo.

Aksi demo dalam pemerintahan demokrasi merupakan sesuatu hal yang sah saja, tapi aksi ini akan jadi tercela jika dilakukan tanpa perundingan terlebih dahulu atau bahkan menimbulkan aksi yang anarkis.

Begitu juga dalam menyampaikan kritikan atau saran, harusnya cari akar permasalahan atau musyawarah dulu sebelum melakukan aksi demo. Jangan sampai demi menjalankan demokrasi, moral dan etika dilupakan, harga diri dikesampingkan, amarah dan emosi pun dikedepankan. Sehingga akhirnya bukan menyelesaikan masalah, malah menambah atau menimbulkan permasalahan baru.

 Gerakan protes

Demo ialah kata dasar dari demonstrasi, yang berarti gerakan protes. Demonstarai dilakukan untuk menyampaikan aspirasi pendemo ke pihak tertentu misalnya pemerintah atau petinggi negara. Dalam dunia Islam awal mula terjadinya demonstrasi pada saat pemerintahan  Khalifah Usman bin Affan. Kaum Khawarij yang tidak setuju dengan pemerintahan Usman melakukan pemberontakan atau yang disebut sekarang Demonstrasi.

Hal tersebut berawal dari isu-isu tentang kejelekan Khalifah Usman yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba’ di kalangan muslim. Kebenaran isu itu belumlah pasti adanya, tapi akibat poltik adu domba dari Kaum Khawarij menjadikan pandangan kaum muslimin buruk terhadap Khalifah Usman. Berbagai aksi demo dilakukan yang membuat situasi pemerintahan menjadi kacau, hingga akhirnya Usman pun terbunuh.

Di Indonesia demo besar-besaran terjadi pada masa pemerintahan Orde Baru pimpinan Soeharto. Sistem pemerintahan Soeharto yang diktator membuat masyarakat gerah dan kecewa. Ditambah lagi dengan krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah dan membengkaknya utang luar negeri.

Kekecewaan tersebut akhirnya menyatukan seluruh masyarakat Indonesia, menyerukan pendapat dan melakukan aksi demo untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Soeharto. Walaupun cara ini dianggap berhasil, tapi para pendemo banyak yang melanggar ketentuan demo seperti merusak fasilitas umum dan melakukan tindakan anarkis hingga mengkibatkan korban jiwa.

Kerusuhan yang terjadi pada 1998 itu menjadi momentum dari cikal bakal demonstrasi di Indonesia. Aksi demo terus dilakukan di berbagai belahan bumi Indonesia, dan kebebasan berpendapat mulai diberikan. Setelah pemerintahan Orde Baru masyarakat menjadi lebih sering melakukan aksi demo dalam menyalurkan pendapatnya. Pemerintah lebih sering dikritik, apa saja yang bertolak belakang dari pendapat publik demolah yang menjadi solusi utama.

Masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah akibat lamanya pemerintahan diktator Soerharto. Saat peralihan kekuasaan ke BJ Habibie, masyarakat pun masih beranggapan bahwa masih ada sisa-sisa dari pemerintahan Orde Baru. Jadi apa pun yang dilakukan dianggap salah dan dikritik habis-habisan. Cara mengkritiknya pun tidak terlepas dari aksi-aksi demonstrasi yang membuat petugas keamanan kewalahan membubarkan masa yang begitu banyak.

Budaya demo

Demo sekarang sudah menjadi hal yang lumrah dan bahkan telah mendarah daging bagi penduduk Indonesia, apapun permasalahannya tidak puas rasanya jika tidak melakukan aksi demo. Bisa dikatakan demo telah menjadi budaya di kalangan masyarakat Indonesia. Kebebasan berdemokrasi membuat masyarakat ingin didengarkan aspirasi dan keluh kesahnya.

Akan tetapi, sayangnya, hanya demo yang menjadi pilihan favorit dalam penyampaian aspirasinya. Padahal, banyak cara lain yang bisa dilakukan selain demo. Dalam benak sebagian masyarakat Indonesia, seakan telah tertanam budaya demo, karena setiap permasalahan tidak tampak solusi lain selain demo. Apakah cuma dengan cara ini aspirasi bisa tersampaikan?

Budaya demo tidak seharusnya menjadi budaya dalam pemecahan masalah, karena terkadang banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di Indonesia. Contohnya, seperti mengkritik pemimpin dengan melontarkan dan menuliskan kata-kata yang tidak enak didengar. Tidak seharusnya kita menjatuhkan pemimpin yang telah kita percayai untuk memimpin kita.

Pemimpin juga manusia dan mereka juga terkadang mempunyai kesalahan, maka kewajiban bagi setiap muslim adalah saling memberi nasehat dan mengingatkan. Namun, tentu saja cara menasehati pemimpin tidak sama dengan menasehati anak, perlu cara lain untuk membuat pemimpin mau mendengarkan kita. Di antaranya dengan cara bermusyawarah; Bukankah dulunnya cara ini yang dipakai dalam pemecahan setiap masalah, bahkan ini termasuk dalam sila ke 4 dalam Pancasila? Mengapa kita lupa dengan budaya asli kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s