Puasa Mengasah ‘Perangkat Kendali’

MUNGKIN kita sepakat bahwa kata “pengendalian” merupakan kata kunci bagi keseimbangan dan kelangsungan kehidupan ini. Adanya kendali atau kontrol, waspada, hati-hati terukur, terjaga, terawasi, sehingga segala sesuatu menjadi pas, klop, seimbang, harmoni, dan sesuai merupakan tuntutan umat manusia tanpa kecuali. Sebaliknya, sesuatu yang tidak terkendali, di luar kontrol, amburadul, kacau balau, simpang siuar, tumpang tindih, centang perenang, tidak terukur, pasti akan berakibat fatal bagi kehidupan siapa pun.

Karena itu, kendali atau mengendalikan segala sesuatu sehingga berada pada koridornya yang benar dan tepat cukup penting untuk selalu dilakukan dalam kontek kehidupan manapun. Begitu pentingnya kendali itu, maka gelagat kehidupan global kita sekarang juga sarat dengan unsur pengendalian melalui sebuah sistem kontrol yang ketat. Tetapi pengendalian secara internal oleh diri sendiri hanya diperoleh melalui kesadarannya dalam berkeyakinan pada ajaran agama misalnya.

Ibadah puasa membantu kita untuk mengendalikan perilaku hidup kita sendiri secara pribadi. Orang yang berpuasa adalah individu yang merdeka untuk mengendalikan dirinya sendiri secara sadar. Mengendalikan diri berbeda pengertiannya dengan dikendalikan. Jika dikendalikan berarti kita sebagai pihak yang berada pada posisi yang tidak merdeka, tidak bebas dari tekanan, dan segala kepentingan pihak lain. Tetapi pengendalian diri orang yang menjalankan ibadah puasa adalah benar-benar berada di atas kehendaknya. Di sinilah kelebihan ibadah puasa, ritual yang mampu mengantarkan seorang hamba pada pusat pengendalian diri yang cukup ampuh.

 Ritual pribadi

Puasa adalah ritual yang cukup pribadi dan privasi yang langsung menekan pada kesadaran mendalam yang paling tinggi seorang hamba di mata Sang Khalik. Kesuksesan pengendalian diri di depan Tuhan akan membawa pengaruh yang cukup besar ke dalam kehidupan sosialnya (hablum minannas). Ketika itu pengawasan, penjagaan, atau pengendalian oleh pihak di luar dirinya bagai tidak diperlukan lagi. Ia sudah terkendali secara internal dari dalam dengan keterlibatan kesadaran dirinya dan Tuhan saja. Tentu, hasil paling spektakuler dari melaksanakan ibadah puasa ini baru dapat diperoleh setelah mememuhi segala kualifikasi berpuasa yang benar menurut tuntunan agama.

Seseorang yang mengonsumsi makanan dan minuman secara tidak terkendali saja berakibat pada obesitas dan ragam penyakit lain bakal menggejala. Makan dan minum berlebihan dalam jumlah (porsi) di luar kebutuhan normal kesehatan dan kebutuhan standar pada manusia normal berisiko fatal bagi tubuh. Menuruti segala hasrat dan keinginan tanpa memedulikan pertimbangan-pertimbangan tertentu akan berakibat tidak baik dan merusak sistem kehidupan yang ada.

Singkatnya, melakukan apa pun di luar kendali, di luar kontrol adalah bukan harapan siapa pun. Dampak buruk akan terjadi di mana-mana bila manusia berbuat apa saja di luar kendali kesadaran kemanusiaannya. Kerusakan alam, lingkungan, habitat, biota, dan ekosistem merupakan satu contoh dari bentuk perilaku manusia yang tidak terkendali, tidak didasarkan pada pertimbangan (rasa bijak) akan baik-buruknya bagi alam dan manusia itu sendiri.

Bentuk kehidupan yang cukup mengerikan akan melanda umat manusia manakala pengendalian diri manusia sudah pupus dari kesadarannya. Dalam tatanan global termasuk di dalamnya adalah perlombaan pengembangan dan pengujian senjata pemusnah massal antar negara-negara maju dan adi daya. Demikian juga populasi penduduk bumi yang tidak terkendali akan menyengsarakan anak manusia di planet bumi yang semakin padat ini.

Ibadah puasa membawa pesan-pesan moral bagi kehidupan global dan universal ini, yaitu di bawah satu kata kunci “pengendalian”. Hal ini berarti umat Islam yang benar dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan memberikan andil yang cukup besar bagi keselamatan planet bumi ini untuk diwariskan bagi anak cucu dan generasi mendatang. Kaum muslimin yang melaksanakan ibadah puasa berarti sedang memelopori kesadaran mengendalikan kehidupan yang dimulai secara pribadi, keluarga, masyarakat, negara, dan dunia.

Betapa agungnya dampak dari perintah Tuhan kepada umat yang beriman untuk berpuasa sebulan penuh di bulan suci Ramadhan ini. Manfaat yang besar tidak saja dirasakan oleh pribadi-pribadi yang berpuasa saja, seperti lebih penyabar dan ikhlas dalam menerima kenyataan hidup ini yang tidak selamanya lempang dan indah, menjadi lebih penyantun bagi saudara yang nasibnya kurang beruntung. Tetapi juga dampak yang lebih dahsyat lagi adalah bagi kehidupan yang lebih luas, bagi tatatan masyarakat yang damai, rukun, demokratis, toleran, terbuka dan bersih dari praktek dan perilaku kotor seperti korupsi, kolusi dan segala tindakam dehumanis lainnya. Karena semua itu telah terbukti sebagai penyakit sosial yang mampu menggeragoti sistem dan ketamaddunan kehidupan bangsa ini.

 Bulan konsolidasi

Ramadhan sebagai bulan konsolidasi penguatan jiwa kebenaran, diharapkan memberi andil yang cukup besar bagi perbaikan dan peningkatan kualitas kehidupan kaum muslimin khususnya di belahan dunia mana pun. Untuk mencapai harapan ini, sejatinya kita di Aceh sebagai bagian umat Islam dunia mencoba dan berupaya untuk berpuasa secara lebih substantif lagi dibandingkan dengan puasa formal yang saban tahun dilakoni oleh kaum muslimin kebanyakan. Berpuasa secara substantif maksudnya adalah puasa yang dapat memberi efek yang signifikan bagi recovery pribadi, masyarakat, bangsa dan dunia.

Berpuasa dengan penuh penghayatan akan makna dan nilai yang diinginkan oleh Tuhan yang telah men-setting ibadah itu bagi setiap hambaNya yang beriman. Berpuasa secara berkesadaran penuh terhadap produk yang diharapkan lahir dari pribadi-pribadi yang berpuasa tersebut. Seperti lahirnya pribadi-pribadi yang hidupnya bersahaja, beretika, santun, penuh kesederhanaan, peka terhadap keadaan sekitar, stabil terkendali, memiliki sikap kelembutan dan mampu berlaku adil bila menerima satu amanah dalam pelayanan publik.

Karena itu, diperlukan konsenterasi penuh dan kinerja maksimal untuk mengembleng diri dalam lautan ibadah yang terfokus selama sebulan penuh ini. Artinya, berpuasa formal memang sejak terbit fajar hingga menjelang malam saja. Tetapi hal itu belum cukup kecuali bagi anak-anak yang sedang berlatih berpuasa. Bagi kaum muslimin dewasa yang telah berkecimpung dalam sejumlah amanah besar yang hendak dikendalikan menjadi lebih baik, maka selain batasan waktu formal tersebut, masih terus berkutat dalam rutinitas penguatan ibadah puasa, seperti berkonsenterasi ibadah malam lagi.

Dengan kata lain, latihan mengendalikan diri belumlah cukup lalu berhenti ketika saat senja saja. Latihan lanjutan sudah menanti jiwa-jiwa pejuang kebenaran di malam hari. Itu baru dikatakan berpuasa selama sebulan, bukan berpuasa di waktu siang hari saja. Namanya saja “bulan” puasa, bukan “siang” puasa. Bulan puasa artinya, puasa selama satu bulan; 28, 29 atau 30 hari termasuk di waktu malamnya. Bukan berarti di waktu malam sejak saat berbuka menahan dan mengendalikan diri sudah selesai, lalu kita boleh berbuat apa saja di luar kendali karena merasa cukup telah dibatasi pada siang hari.

Jika demikian halnya, seumur-umur kita menjalani ibadah puasa, tatatan individu, keluarga, masyarakat, negara dan dunia yang diharapkan menjadi lebih baik, tidak akan pernah terwujud disebabkan kepicikan kita dalam memahami substansi berpuasa. Semoga Ramadhan 1434 Hijriyah ini dapat terlaksana secara lebih bermakna bagi tatanan kehidupan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s