Melawan Kemungkaran

SATU tugas manusia di muka bumi adalah menyuruh yang baik dan mencegah yang mungkar. Perintah ini sengaja ditujukan Allah kepada manusia, tidak untuk makhluk lain di alam semesta ini. Akan tetapi, melawan suatu kemungkaran ternyata tidaklah mudah. Dalam sejarah kenabian dan keulamaan, tantangan dalam melawan kemungkaran muncul dari makhluk yang nyata (manusia itu sendiri), hingga makhluk ghaib (jin, iblis, dan syaitan). Derajat manusia yang menghadang kebaikan para Nabi dan Rasul muncul dari musuh yang sekandung hingga para diraja. Demikian pula, makhluk ghaib selalu menanti di setiap tikungan ketika kita hendak melawan kemungkaran. Akibatnya, tugas kekhalifahan manusia yang paling berat adalah melawan atau mengubah kemungkaran menjadi kebaikan.

Bulan Ramadhan, menurut suatu pandangan, semua komponen yang memicu kemungkaran dihentikan, manakala manusia sedang berpuasa. Makhluk ghaib tidak akan mampu menggoda orang jika seseorang tersebut berpuasa sesuai dengan syariat. Akal manusia ditundukkan untuk menghilangkan tingkat rasionalitas dari semua kebolehan saat tidak puasa, menjadi tidak boleh. Kemudian, Ramadhan juga menyediakan perangkat untuk melahirkan kembali manusia yang fitrah. Ujungnya, manusia diharapkan yang telah terlahir kembali (reborn), dianggap telah mengalami pencerahan. Konsep inilah yang kemudian mencetak “manusia baru” pasca-Ramadhan, di mana mereka tidak lagi berpikir untuk membuat kemungkaran. Jika pasca-Ramadhan, masih ada upaya untuk melakukan kemungkaran, maka proses ritual selama Ramadhan tidak berfungsi sama sekali.

Karena itu, mungkar hanya dapat dilawan oleh manusia yang telah melakukan proses fitrah. Dengan kata lain, hanya manusia suci yang mampu menghadang kemungkaran. Biasanya, manusia suci yang mampu melakukan perlawanan terhadap kemungkaran disimbolkan dengan tangan, mulut, dan hati. Sekarang, jika manusia tersebut sudah suci hati, perkataannya juga suci, dan tangan (baca: kekuasaan) juga suci, maka kemungkaran akan lenyap. Karena sinergi hati-mulut-tangan merupakan simbol kekuatan seorang khalifah. Karena itu, perubahan kemungkaran dilakukan oleh manusia yang memiliki kesucian dalam hati, mulut, dan tangan.

Allah menyediakan perangkat yang cukup ampuh untuk menjadi manusia suci melalui bulan Ramadhan ini. Hati kerap dianggap sebagai ‘alam al-saghir (mikrokosmos). Dia tempat bersemayam berbagai perintah terhadap tubuh manusia. Dia merupakan kendali bagi pertemuan manusia dengan ‘alam al-kabir (makrokosmos). Karena itu, manusia yang mampu menghubungkan ‘alam al-shaghir dan ‘alam al-kabir telah memperoleh dua kekuatan di dalam dirinya yakni ucapan dan tindakan yang didukung oleh alam semesta.

Inilah inti kekuatan seorang ‘abd ketika berada di muka bumi ini. Uniknya, mereka yang kemudian berhasil mempertemukan mikro dan makrokosmos, malah melakukan tindakan yang bersifat melawan kemungkaran dari makhluk ghaib hingga non-ghaib dalam keterdiaman. Ucapan atau doa yang dilakukan secara diam, spirit dari kekuatan dari dua alam tersebut kemudian menjadi alat untuk melawan kemungkaran. Sehingga makhluk ghaib dan non-ghaib sangat menakuti mereka yang memiliki satu nafar kekuatan dari mikro dan makro kosmos.

Puasa, dengan demikian, sebenarnya sebuah latihan untuk manusia agar dapat memperoleh kekuatan untuk melawan kemungkaran. Training dari Allah yang dilakukan setahun sekali ini, dapat juga dianggap sebagai upaya agar manusia mampu memperoleh tiga kekuatan yang disimbolkan dengan tangan, mulut, dan hati. Perangkat latihan dari langit ini menjadi acuan hanya untuk orang yang beriman. Di sini, beriman dilakukan kepada hal-hal yang ghaib. Karena itu, kekuatan iman ini menjadi prasyarat supaya manusia paham betul bagaimana melatih agar dapat melawan kemungkaran.

Jika perlawanan terhadap kemungkaran dilakukan tidak melalui proses di atas, maka perlawanan tersebut tidak akan berhasil. Kita lihat misalnya, para pahlawan hampir semuanya merupakan insan-insan yang telah berhasil mempertemukan ‘alam al-saghir dan ‘alam al-kabir. Walaupun belakangan, model ini dimonopoli dalam kajian Tasawuf, namun Allah sendiri yang membuka lebar agar siapa pun dapat merasakannya selama Ramadhan. Karena itu, kemungkaran akan menjauh pada manusia yang telah mencapai derajat khalifah, di mana dia telah mampu mengenali dirinya sendiri melalui paham akan kekuatan tangan, mulut, dan hati. Inilah kekuatan tersembunyi dari Ramadhan, yang jarang kita sadari dalam melawan suatu kemungkaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s