Ramadhan dan Lailatul Qadar

SEBAGAI bulan yang diutamakan, Ramadhan paling kurang mempunyai tiga kelebihan dibandingkan bulan lainnya. Pertama, shalat malam yang di bulan lain dilaksanakan secara diam-diam, pada Ramadhan dilaksanakan secara berjamaah di masjid-masjid dan dijadikan sebagai satu syiar utama. Seolah-olah shalat Tarawih pada Ramadhan adalah penyegaran dan pelatihan ulang agar semua umat Islam tetap berkomitmen melaksanakan shalat malam selama sebelas bulan berikutnya, sampai tiba Ramadhan tahun depan;

Kedua, ibadat puasa yang cenderung hanya untuk kemanfaatan individual, harus diakhiri dengan zakat fitrah (bagi yang mampu) yang merupakan ibadat sosial, sehingga keterhubungan antara ibadah individual dengan ibadah sosial tetap selalu terhubung dan saling melengkapi. Ibadah yang kita lakukan (termasuk ke dalamnya puasa Ramadhan) harus membawa manfaat di samping untuk orang yang melakukannya, juga untuk masyarakat yang ada di sekitarnya, dan; Ketiga, lailatul qadar yang di bawah akan diulas lebih lanjut.

 Surat Al-Qadr

Istilah Lailatul Qadar ditemukan di dalam Alquran surat ke 97 (surat Al-Qadr, yang bermakna kemuliaan) yang terdiri atas lima ayat. Secara bebas ayat-ayat tersebut bermakna: “Sesungguhnya Kami telah (mulai) menurunkan (Alquran) pada malam kemuliaan (al-qadr); Apakah kamu tahu apa malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan adalah (malam yang) lebih baik dari seribu bulan; Pada malam itu turun para malaikat dan (malaikat) Jibril dengan izin Tuhannya untuk menjalankan segala titah; Malam itu (penuh dengan) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Seperti jelas tertera dalam ayat-ayat di atas, malam ini mempunyai beberapa kelebihan: Pertama, merupakan waktu yang dipilih Allah untuk mulai menurunkan Alquran; Kedua, para malaikat, termasuk Jibril atas izin dan perintah Allah, pada malam itu turun (ke bumi) untuk melaksanakan berbagai urusan, perintah ataupun titah yang diberikan Allah kepada mereka; Ketiga, malam ini penuh dengan keberkatan dan kesejahteraan sampai fajar tiba, dan; Keempat, malam ini lebih baik dari seribu bulan, karena itu sangat baik untuk beribadat.

Mengenai waktu terjadinya, menurut penjelasan (hadis-hadis) Nabi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Kemungkinan besar Lailatul Qadar terjadi pada satu malam di bulan Ramadhan, yang kemudian dipertajam lagi, lebih sering terjadi pada malam-malam ganjil. Setelah ini, ada lagi hadis yang lebih mempersempitnya, lebih sering terjadi pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan.

Karena itu Rasulullah sangat menggalakkan para keluarga dan Sahabatnya untuk selalu berada di masjid (beriktikaf) pada sepuluh hari yang terakhir itu, untuk membaca Alquran, berzikir, berdoa, serta melakukan shalat dan ibadat sunat lainnya, sepanjang siang dan malam. Beliau sendiri (Rasulullah) pada sepuluh hari terakhir ini, sekiranya berada di Madinah, selalu berada di masjid, dan hanya keluar untuk mandi, berwudhuk, makan dan beberapa hal lain yang merupakan kebutuhan rutin dan primer seseorang.

Istri-istri beliau pun beliau dorong agar pada sepuluh hari yang terakhir ini sepenuhnya melakukan iktikaf, beribadat di masjid secara penuh dan sungguh-sungguh. Hadis tentang hal ini relatif banyak dan mudah menemukannya. Beberapa hadis juga memberikan tanda-tanda apabila Lailatul Qadar sudah terjadi. Karena menceritakan tanda sesudah Lailatul Qadar itu terjadi, penulis rasa tidak perlu dikutip di ruangan yang pendek ini.

Sesuai dengan yang tertera pada ayat-ayat di atas dan hadis-hadis, kelebihan Lailatul Qadar harus dipahami sebagai malam yang lebih mulia dari seribu bulan, dalam arti ibadat yang dilakukan pada malam itu adalah lebih baik dari ibadat yang dilakukan secara berturut-turut selama seribu bulan. Lebih konkret lagi, pahala atau manfaat atau kelegaan sebagai hasil dari beribadat dan berdoa pada malam Lailatul Qadar akan lebih baik, lebih membekas, lebih bepengaruh dari ibadat dan doa yang dilakukan selama seribu bulan secara terus menerus.

Karena itu, sekali lagi beribadat dan berdoa pada malam Lailatul Qadar amatlah sangat dianjurkan. Yang diberi nilai lebih tersebut adalah ibadat dan doa yang dilakukan sepanjang malam Lailatul Qadar, bukan hanya ibadat atau doa pada saat Lailatul Qadar terjadi (sekiranya di antara kita ada yang memahami bahwa Lailatul Qadar bersifat fisik).

Kalau demikian keadaannya, apa dan bagaimana cara yang lebih bermakna dan lebih mendalam yang dapat kita persiapkan untuk menghormati dan menyambut Lailatul Qadar. Barangkali dengan beribadah dan beramal secara sungguh-sungguh sejak awal Ramadhan pada setiap malamnya, maka insya Allah satu dari malam tersebut adalah Lailatul Qadar. Jadi untuk memperoleh manfaat dan kelebihan yang ada pada Lailatul Qadar tidak mesti dengan menunggu dan mencari malam tersebut secara pasti, dan baru setelah itu berdoa atau melakukan berbagai ibadat yang kita rasa perlu.

 Sukar memastikan

Penulis rasa terlalu sukar untuk menemukan dan memastikan kapan Lailatul Qadar terjadi, karena tanda-tanda yang ada di dalam hadis semuanya untuk menyatakan bahwa Lailatul Qadar sudah terjadi. Dengan beribadat secara sungguh-sungguh sejak awal Ramadhan sampai ke akhirnya, terutama pada malam hari, tanpa perlu mencari, menunggu ataupun mengetahui mana persisnya malam Lailatul Qadar, insya Allah kita akan menemukan Lailatul Qadar dengan segala kelebihan dan berkahnya.

Logikanya sederhana saja, karena Lailatul Qadar terjadi pada malam hari bulan Ramadhan, dan kita beribadat setiap malam maka tentu salah satunya akan bersesuaian dengan Lailatul Qadar. Menurut penulis pemahaman inilah yang lebih sesuai dengan ajaran dan tuntunan Nabi, karena beliau menyuruh umat untuk beribadat secara sungguh-sungguh terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Beliau menyuruh umat untuk beribadat dan tidak menyuruh umat untuk menunggu atau mencari kapan laylatul qadar terjadi secara pasti dan spesifik.

Mudah-mudahan malam-malam Ramadhan yang masih ada dapat kita manfaatkan secara maksimal, untuk beibadat termasuk berdoa, mudah-mudahan salah satu (sebagian) ibadat kita tersebut bersesuaian dengan Lailatul Qadar, sehingga akan memperoleh berkah dan pahala melimpah seperti dijanjikan Allah dalam ayat di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s