Belajar Menjadi Manusia Seutuhnya

SERING sekali kita dengar, bahwa Ramadhan adalah bulan di mana kita berlatih, berlatih mengelola emosi, berlatih kepekaan sosial, atau berlatih membaca Alquran. Dari sekian banyak kemungkinan latihan yang mungkin kita lakukan di bulan ini, satu di antaranya adalah berlatih menjadi manusia seutuhnya, atau manusia yang sempurna.

Menjadi manusia yang sempurna terkesan sederhana, karena semua kita merasa telah berhasil menjadi manusia. Namun demikian, pada hakikatnya, dalam Ilmu Biologi, manusia digolongkan satu kingdom (kerajaan) dengan binatang-binatang lainnya. Singkat kata, manusia sesungguhnya juga merupakan seekor hewan.

Satu kelebihan besar manusia dibandingkan hewan adalah kita punya volume otak yang cukup besar untuk mampu memikirkan jauh lebih banyak hal dibandingkan hewan lainnya. Sementara hewan hanya memiliki insting (naluri), manusia selain memiliki naluri, juga mempunyai nurani (hati) dan nalari (pikiran). Dua poin terakhir inilah yang membedakan manusia dengan hewan lainnya, dan juga yang membuat manusia istimewa.

Firman Allah Swt: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 190-191).

Ayat di atas jelas menampilkan ciri-ciri sebenarnya seorang manusia sempurna, yang dalam hal ini Allah menyebutnya dengan ulul-albab (orang-orang yang berakal). Dua dari ciri manusia yang memiliki akal pikiran tersebut akan terlihat ketika ia tidak pernah melupakan Allah baik saat berdiri, duduk, atau berbaring. Singkat cerita, ia adalah seorang yang setiap saat ingat akan Penciptanya.

Di sisi lain, ia juga akan selalu menggunakan segenap akal pikirannya untuk memikirkan semua fenomena yang terjadi pada penciptaan segala sesuatu di langit dan di bumi. Pada akhirnya, keterpaduan antara kedua ciri di atas akan menimbulkan sebuah rasa takjub yang luar biasa terhadap Sang Pencipta.

Secara tidak langsung, Allah menggambarkan bahwa, manusia (makhluk yang berakal) tadi, harus memiliki nurani dan nalari, selain memiliki naluri kehewanannya. Secara tersirat, nurani manusia akan mengarahkannya untuk selalu mengingat Allah baik ketika, berdiri, duduk, dan berbaring. Di sisi lain, kemampuan untuk selalu memikirkan kejadian langit dan bumi menggambarkan bahwa manusia tersebut memfungsikan nalarinya dengan baik.

Degradasi moral yang terjadi, terutama di kalangan generasi muda, sepertinya mengarah pada minimnya fungsi nurani dan nalari pada mereka. Sehingga tidak heran jika mereka kembali ke habitat aslinya, seekor hewan. Layaknya hewan, maka menzalimi yang lain, berlaku tidak sopan, bahkan membunuh, memperkosa dan sebagainya, bukanlah hal yang tabu. Alquran juga menggambarkan nasib mereka yang kehilangan nurani dan nalari mereka, serta menggolongkan mereka kepada golongan binatang ternak.

Firman Allah Swt: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)

Kata hati dalam ayat tersebut menggambarkan nurani, sementara mata dan telinga yang tidak difungsikan, seperti tertera dalam ayat itu, akan secara tidak langsung menutup kemungkinan seseorang untuk berpikir tentang semua fenomena. Manusia yang gagal menjadi manusia sempurna tersebut disebut Allah lebih buruk keadaannya daripada binatang ternak. Pada hari akhirat, mereka yang kehilangan hati nurani, serta pikiran nalari mereka diancam dengan neraka Jahannam.

Agar tidak kehilangan nurani dan nalari, Allah menyediakan kitab petunjuk yang diturunkan pada bulan Ramadhan, yang menjadi petunjuk bagi manusia. Sehingga semua ajaran dan aturan yang ditulis dalam kitab itu sangat sesuai dengan kebutuhan dan kesanggupan manusia. Karena itu, untuk mengukur derajat kemanusiaan seseorang, sesungguhnya dapat dilihat langsung dari seberapa dekat orang tersebut dengan ajaran Quran.

Ramadhan merupakan momentum yang sangat baik untuk meminimalisasi potensi naluri hewaniah manusia yaitu dengan mengontrol semua pemenuhan kebutuhan biologis setiap harinya. Semoga Ramadhan ini berhasil mengontrol nafsu naluriah kita, dan mendekatkan kita kembali kepada Alquran, sehingga mampu mendidik kita semua untuk menjadi manusia yang sempurna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s