Sucikan Jiwa dengan Zakat Fitrah

ZAKAT fitrah disebut juga dengan az-zakat al-badany, karena zakat fitrah berfungsi menyucikan jiwa seseorang dari dosa-dosa. Hukumnya adalah fardhu ‘ain sebagaimana hadis Rasulullah saw. Ibnu Umar berkata: “Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah dari bulan Ramadhan sebesar 1 sha’ kurma (1862,19 gram) atau 1 sha’ gandum pada orang-orang yang merdeka atau hamba baik laki-laki maupun perempuan yang beragama Islam.”

Sehubungan dengan itu Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri dan dia ingat nama Tuhannya lalu menyembahnya.” (QS. Al-A’la: 13).

Syekh Maulana Muhammad Amin Al-Kurdi seorang sufi yang telah mengarang berbagai kitab di antaranya yang mashur adalah kitab Tanwirul Qulub, menyebutkan manfaat-manfaat zakat fitrah di antaranya: Pertama, menyucikan bagi yang berpuasa dari omongan kotor, ghibah, namimah dan lain-lain; Kedua, belas kasihan terhadap orang fakir di hari yang fitri, dan; Ketiga, menjadikan sebab diterimanya puasa.

Sebagian ulama berpendapat zakat fitrah tidak boleh diberikan dalam bentuk uang, karena pada zaman Rasulullah zakat fitrah ditunaikan dengan bahan makanan. Tetapi karena perkembangan zaman, maka banyak ulama –semisal Yusuf Qardhawi– membolehkan membayar dengan uang senilai 2,5 Kg bahan makanan pokok.

Imam Syafii berpendapat bahwa barang yang sah untuk dijadikan sebagai zakat fitrah haruslah dari makanan pokok (al-quut) seperti beras, gandum, jagung atau yang lain yang digunakan sebagai makanan pokok.

 Menggunakan rasio

Namun, Imam Hanafi berpendapat lain dengan memperluas dan menggunakan rasio, yang membolehkan zakat fitrah ditunaikan dengan uang, karena kebanyakan orang paling membutuhkan uang dari pada beras.

Beliau berpendapat bahwa zakat fitrah dengan uang lebih baik karena manfaatnya lebih universal dan lebih mengena dapat dipakai sesuai kebutuhan yang bersangkutan. Artinya jika ada uang, maka kebutuhan apapun dapat diperoleh.

Zakat fitrah berbeda dengan zakat-zakat yang lain, karena spesifik dan hanya disyariatkan ketika bulan Ramadhan telah sempurna dan pada saat umat Islam yang berpuasa sudah berbuka dari puasa Ramadhan.

Nah, karena waktu tersebut sangat sempit sebelum pelaksanaan shalat Ied, maka diberi toleransi penerimaan zakat fitrah oleh amil dipercepat mulai malam ke 25 atau 26 Ramadhan sehingga cukup waktu untuk distrubusi kepada yang berhak.

Tujuan dari zakat fitrah ini adalah agar pada hari lebaran nanti, jangan sampai ada fakir miskin, dhuafa, fukaha yang tidak menikmati rezeki untuk sehari itu saja. Diharapkan dengan berbagai kebahagiaan di hari fitri, hubungan antar sesama dapat terjalin dengan baik dan akan muncul semangat keberpihakan terhadap kaum lemah. Terlebih ketika kondisi dan situasi perekonomian bangsa yang sedang suram, jumlah rakyat miskin juga diperkirakan bertambah, maka kewajiban zakat fitrah harus benar-benar diamalkan.

Mungkin nilai zakat fitrah tidak seberapa, kecil sekali. Namun lebih dari itu, diharapkan melalui zakat fitrah, jiwa sosial seseorang terketuk untuk selanjutnya bersedia mengeluarkan zakat, infak, sedekah, amal jariah dan sebagainya yang nilainya lebih besar. Jangan kemudian ada yang mengira setelah membayar zakat fitrah, selesailah sudah kewajiban zakat yang lain. Kita harus ingat, sedekah, amal jariyah juga wajib bagi yang mampu.

Perintah berzakat fitrah adalah guna menggugah kedermawanan, kepedulian dan empathi seseorang kepada golongan lemah (fakir miskin), karena sesungguhnya zakat fitrah tak lebih dari simbol kepedulian sesaat, tapi dalam jangka panjang harus ada tindak lanjut yang berkesinambungan demi terwujudnya pemerataan keadilan sosial.

Esensi pelaksanaan zakat fitrah ada dua, yakni secara sosial zakat ini adalah untuk kepentingan kaum fakir miskin dan sebagai sarana ‘membersihkan’ harta sekaligus jiwa seseorang. Zakat fitrah ini kaitannya dengan fitrah manusia yang beragama Islam. Mereka yang telah menjadikan agama Islam sebagai pedoman hidup, harus secara konsekuen melaksanakan segala perintah-Nya termasuk berpuasa di bulan Ramadhan.

 Tidak selamanya

Sesuai pedoman, kaum fakir miskin, yatim piatu, dan dhuafa, tetap merupakan penerima zakat fitrah. Namun pesan yang hendak disampaikan adalah, akan lebih baik jika tidak selamanya mereka menjadi penerima zakat.

Jadi perlu pembinaan yang sistematik kepada mereka agar pada suatu saat nanti taraf hidup mereka dapat meningkat. Di sinilah selanjutnya peran dan tanggung jawab pemerintah untuk mengurus para fakir miskin tersebut, antara lain melalui pengelolaan keuangan dan zakat secara benar.

Oleh karenanya, peningkatan kuantitas zakat maal tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dalam hal ini zakat fitrah bisa menjadi momentum yang tepat bagi ummat Islam untuk menggalakkan kewajiban mengeluarkan zakat hartanya jika sudah sampai nisab.

Jika sebagain besar umat Islam sudah sadar berzakat, maka akan mengurangi angka kemiskinan di negeri tercinta ini. Tidak terjadi lagi gap yang menganga lebar antara si kaya dan si miskin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s