Peduli Saudara

“Tidak beriman seorang muslim itu sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya” (HR. al-Bukhari).

Dari munculnya rasa peduli, setiap kita bisa mengukur diri.  Yaitu, mengukur dalam golongan manusia manakah kita sudah termasuk hingga saat ini. Masih berimankah, kurang, atau tidak sama sekali? Iman itu bisa naik turun dan bahkan musnah atau binasa.  Yang jelas, orang-orang beriman dipersatukan hatinya oleh Allah. Disebutkan: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara” (QS. al-Hujuraat: 10).

Kini saudara-saudara seiman kita berdarah-darah di sana. Di negeri Mesir persisnya. Sebahagian mereka dibunuh, dibakar, diinjak-injak tubuhnya ketika sedang mempertahankan kebenaran. Sebahagian lagi menganga terluka, mengaduh derita, dan bertahan dengan sisa hidup yang ada di antara letusan senjata dan manusia-manusia yang sedang murka. Mendidih darah bagi (orang-orang beriman) yang melihat atau mendengarnya. Tak mungkin tak merasa sakit bila mereka adalah bagian tubuh kita sendiri yang tersakiti. Orang-orang beriman itu ibarat satu tubuh.

Kalau pun peduli, cukupkah kita hanya mampu peduli dengan kata-kata kutukan terhadap para penindasnya? Cukupkah kita hanya mengirim kata-kata turut berduka? Sungguh, kata-kata tak mampu mengobati derita atau menyembuhkan luka terkena senjata. Bila itu memang dianggap cukup, jangan pernah mengeluh bila nantinya hanya dikirim kata-kata saat giliran kita terluka dan sengsara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s