Wakil Rakyat

BERANGKAT dari sebuah harapan, setiap rakyat Indonesia memilih wakilnya untuk duduk di kursi parlemen melalui pemilihan umum legislatif (Pileg). Di mana para wakil tersebutlah yang akan menjadi penyampai suara rakyat, suara untuk hidup sejahtera, adil dan damai di negerinya. Bukan hidup yang bertambah sulit karena kebijakan-kebijakan otoriter penguasa yang tak peduli akan nasib orang-orang yang dipimpinnya. Bukan pula hidup yang kekurangan karena menghidupi orang-orang yang menjadi wakil mereka di parlemen.

Melalui pemilihan umum legislatif, rakyat dengan bebas tanpa intervensi dari pihak manapun menentukan orang-orang yang dianggap pantas menjadi wakil mereka. Untuk ini semua, tentunya orang yang dipilih bukanlah sembarangan. Meminjam istilah Iwan Fals dalam syair lagunya “Surat Buat Wakil Rakyat” yang berbunyi: “…di kantong safarimu kami titipkan masa depan kami dan negeri ini…” Kurang lebih demikianlah secara garis besar harapan rakyat yang diamanatkan kepada wakilnya.

 Di tangan rakyat

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wakil merupakan sebuah kata benda, yang bermakna orang yang dikuasakan menggantikan orang lain. Dalam sistem pemerintahan demokrasi, di mana kedaulatan berada di tangan rakyat maka rakyatlah yang sebenarnya mempunyai kekuasaan paling besar untuk mengatur kehidupan negaranya. Karena jumlah rakyat yang demikian banyak, dibutuhkanlah wakil untuk menyampaikan suara mereka dalam setiap pengambilan kebijakan publik. Jadi mereka yang saat ini berada di kursi legislatif adalah atas kepentingan rakyat yang mereka wakili.

Menjadi wakil rakyat jelas bukanlah hal yang mudah, terutama karena tanggung jawab yang harus diembannya sebagai orang yang diberi amanah. Dengan tanggung jawab yang tidak ringan tersebut, terkadang muncul sebuah pertanyaan, mengapa jabatan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) diperebutkan? Nyatanya memang tidak sedikit calon anggota legislatif (caleg) yang harus kita pilih ketika berlangsung Pileg. Setidaknya inilah yang membuktikan adanya persaingan yang memperebutkan jabatan.

Mereka yang duduk di kursi legislatif tersebut sudah pasti mereka yang dianggap mampu untuk bersikap dan bertindak secara tegas membela kepentingan rakyat. Namun realitasnya tidak jarang rakyat dibuat terkejut dengan pemberitaan-pemberitaan tetang tindakan yang diluar dugaan. Misalnya saja yang beberapa waktu lalu diberitakan media, terjadi di Sulawesi Selatan (Sulsel). Seorang anggota DPRD setempat dilaporkan memukul seorang wanita yang tengah hamil 3 bulan.

Meski hal tersebut tidak ada kaitannya dengan persoalan dalam jabatannya, namun jelas tindakan seperti ini menunjukkan ketidakpantasan sikap yang dimiliki seorang wakil rakyat. Di antara yang bisa membuat rakyat menaruh kepercayaan adalah bagaimana para wakil tersebut bisa menunjukkan kepribadian yang baik. Ketika terjadi tindakan seperti ini, yang dilakukan seorang wakil kepada orang yang diwakilinya jelas menunjukkan sesuatu yang tidak semestinya.

Selanjutnya, wacana yang berhembus di publik bahwa DPR adalah lembaga terkorup, seakan begitu saja berlalu dari pandangan mereka, tanpa adanya suatu tindakan menanggapi. Seperti yang dikatakan oleh seorang peneliti Forum Masyarakat Pemantau Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (17/9/2013).

“Kita berhadapan dengan DPR yang tampak tak hanya sebagai lembaga terkorup, tetapi juga DPR yang berhati baja. Semua kritik dan teriakan publik tersebut, sejauh ini tak kurang lantang disuarakan, tetapi pada saat yang sama DPR seakan ‘mati rasa’ untuk sekadar melakukan upaya reformasi serius secara kelembagaan demi membersihkan lembaga itu dari korupsi,” kata Lucius.

Rakyat pun dibuat bingung bagaimana bisa orang yang menjadi wakil-wakil mereka di parlemen berbuat demikian itu. Kepedulian kepada rakyat yang ditampakkan menjelang Pileg seakan tak berbekas apa-apa. Entah bagaimana bisa mereka yang awalnya nampak sebagai pejuang rakyat tiba-tiba berbalik menjadi musuh yang begitu mematikan.

Apakah memang demikian cepat perubahan sikap yang terjadi setelah mereka berhadapan dengan jabatan dan kekuasaan? Atau memang hal semacam ini adalah sekenario yang direncanakan sejak awal untuk dijalankan secara bertahap. Asumsi-asumsi negatif muncul begitu saja karena kekecewaan mendalam atas perilaku anggota dewan yang cukup memprihatinkan.

Kepentingan rakyat yang harusnya diusung pun entah akhirnya dikemanakan. Mereka bekerja tidak lagi untuk rakyat, namun untuk kepentingannya pribadi, keluarga dan kelompoknya. Rupanya jabatan memang mampu membutakan nurani manusia untuk bisa menjaga amanah yang diberikan di pundaknya.

Padahal, jika dilihat dari sudut pandang agama Islam yang mayoritas dianut oleh masyarakat Indonesia, termasuk juga mereka para wakil rakyat, terdapat suatu hadis yang menyatakan: “Celakalah para pemimpin, celakalah para pejabat, celakalah para pengemban amanat. Nanti pada hari kiamat mereka pasti berharap tidak pernah sama sekali memegang jabatan itu, (amanah itu telah membuat) tengguknya bergantung pada bintang, terombang ambing di antara langit dan langit.” (HR. Ahmad).

 Lebih baik mundur

DPR tidaklah tepat jika hanya digunakan sebagai mata pencarian untuk menambah kekayaan diri. Jika memang mereka, para wakil rakyat tidak siap dengan tanggung jawab yang diembankan kepadanya, lebih baik mereka mundur saja. Sebelum, sikap-sikapnya semakin mengecewakan rakyat. Harusnya sebagai orang yang dianggap memiliki kecakapan intelektual, mereka sadar diri atas tindakan yang dilakukan. Ini setidaknya juga bisa menjadi bahan renungan para Caleg 2014 yang namanya telah bertebaran di kanan-kiri jalan.

Jabatan yang diperebutkan untuk diduduki bukanlah sekadar profesi sebagaimana profesi lain. Namun yang lebih urgen adalah kesiapan untuk mengabdi, memperjuangkan aspirasi rakyat. Sudah cukup penderitaan dan kekecewaan yang diterima masyarakat Indonesia atas perilaku-perilaku tak pantas yang dilakukan wakil rakyat. Rakyat Indonesia telah merindukan kemajuan negaranya melalui wakil-wakilnya yang cerdas, dan berakhlak mulia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s