Ka’bah, Nabi Ibrahim dan Muhammad SAW

PADA awalnya, bangunan Kakbah yang terdapat di dalam Masjidil Haram, di Mekkah al-Mukaramah, Arab Saudi, hanyalah fondasi empat persegi panjang. Bagian dindingnya sebelah timur laut yang sejajar dengan barat laut panjangnya sama, yaitu sekitar 12 meter. Sedangkan lebar dinding bagian utara dan selatan sekitar 10 meter. Jika hujan turun atau datangnya banjir, maka fondasi yang terletak di dasar lembah (bathn) Mekkah ini menjadi alur aliran air yang datang dari perbukitan di sekitarnya. Arah sudutnya tidak persis menunjuk ke mata angin. Keempat pojok ini kemudian diberi nama: Utara namanya Rukn al-‘Iraqi, sebelah barat Rukn al-Syami, sebelah selatan Rukn al-Yamani, dan timur Rukn al-Aswad (sesuai dengan tempat letak batu hitam, Hajr al-Aswad).

Inilah rumah ibadah pertama untuk menyembah Allah SWT. Selama membangun Kakbah itulah Ibrahim menengadahkan kedua belah tangannya diikuti oleh putranya Ismail, meneriakkan: “Saya siap, ya Tuhanku saya siap!” (labbaik, Allahumma labbaik). Di saat itu pula Tuhan menjanjikan akan menjadikan keturunan Ibrahim sebagai satu kaum yang besar. Tapi siapa sebenarnya Ibrahim? Ibrahim berasal dari kota Ur di Kaldea, sebuah kota metropolitan kala itu, hal ini dibuktikan ribuan tahun setelah itu, dilakukan penggalian atas tumpukan pasir yang mencurigakan di sebuah tempat, 900 Km di selatan Baghdad (Irak), 3 Km dari sungai Eufrat dan 250 Km dari pantai teluk Persia, awal tahun 50-an, membongkar sebuah rahasia besar.

 Peradaban tinggi

Di tempat penggalian tersebut para ahli purbakala menemukan sebuah kota mewah: Kota Ur, yang disebut-sebut sebagai tempat asal Nabi Ibrahim as. Di zaman itu, sekitar 2500 tahun sebelum Masehi (SM), tentu letaknya di tepi pantai Teluk Persia. Endapan yang terus dibawa lumpur sungai Eufrat selama ribuan tahun, tak ayal lagi telah menjauhkan kota ini dari tepi laut. Kala itu Ur adalah sebuah pelabuhan internasional yang menampung barang dari dan ke India. Ur adalah sebuah metropolitan yang ramai dengan peradaban yang jauh lebih tinggi dari wilayah lain di sekitarnya, paling tidak dari segi bentuk bangunan dan model perumahannya.

Kebanyakan rumah yang ditemukan berukuran cukup besar, dengan jumlah kamar 13-14 buah, dan banyak di antaranya bertingkat dua atau tiga. Jadi, Ur di Kaldea ini adalah sebuah kota berperadaban tinggi. Seperti Nabi Muhammad saw, Ibrahim datang dari sebuah negeri berkebudayaan urban yang tinggi. Tak beda dengan Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim as juga pemberontak melawan penyembahan matahari, bintang dan bulan yang alasan-alasannya termaktub dalam Alquran (QS. Al-An’am: 74-82). Nabi Ibrahim as juga orang pertama memerangi pemujaan terhadap berhala (QS. Al-Anbiya: 60). Pemberontakan Ibrahim atas penyembahan berhala itu memancing reaksi keras para penguasa dan penganut, yang kemudian melempar Ibrahim ke dalam api (QS. Al-Anbiya: 68-69).

Dalam tafsiran umum, api itu dikaitkan dengan Namruz, seorang Raja yang wilayahnya mungkin meliputi seluruh daerah dua aliran. Ibrahim lolos dari kobaran api dan kemudian mengembara ke utara melalui Babylonia ke Assyria dan mengalami berbagai usaha untuk melenyapkannya (QS. Al-Anbiya: 70). Rupanya apa yang dikatakan Alquran bahwa ia berbicara dengan ayahnya (QS. Maryam: 41-48) berlangsung ketika ia dewasa. Ia lalu meninggalkan kampung halamannya dan sampai ke daerah subur di Padan Aram dengan menghindari gurun Syria. Dari sana ia berkelana ke selatan di Kana’an, tempat berlangsungnya petualangan bersama keponakannya Luth (QS. At-Taubah: 67-76).

Setelah berbilang tahun, barulah terjalin kisahnya bersama Hajar. Istri pertamanya, Sarah membolehkan ia mengawini Hajar, budaknya berbangsa Abysinia mungkin berasal dari kota kuno Pebusium di Mesir. Ibrahim memang telah uzur dan belum mempunyai keturunan. Dari perkawinan dengan Hajar ia memperoleh anak, Ismail. Ketegangan keluarga karena cinta segitiga ini, memaksa Ibrahim membawa Ismail ke selatan, sampai ke lembah Mekkah. Di sinilah Ibrahim membangun Kakbah, rumah peribadatan kepada Allah Yang Maha Esa yang pertama.

Kakbah yang dibangun Nabi Ibrahim as itu merupakan muara pertemuan Ibrahim, Muhammad saw, Tuhan, dan Manusia. Kakbah hanya simbol kenabian Ibrahim dan Muhammad, perlambang keesaan Allah dan kesatuan umat manusia yang menyembahNya. Menjelang kenabian Muhammad Saw, Kakbah telah menjadi satu pusat berhala terbesar di dunia. Dalam perjalanan waktu, agama Ibrahim memang telah dibelokkan oleh para penganutnya. Lebih jelek dari penyimpangan Islam oleh bangsa Badui di saat pembaruan Muhammad bin Abdul Wahab (Wahabi) pada era 1740-an, dimana ada Badui yang memulai lagi penyembahan batu dan pohon.

Kala pemugaran di zaman Muhammad saw, tinggi dinding Kakbah kurang dari 2 meter. Tidak ada atap sehingga bila hujan, aneka hiasan yang ada di dalamnya basah kuyup. Kepala berhala tersiram dari atas dan kakinya tergenang dalam air lumpur yang kotor. Lama sebelum itu, Kakbah ini telah menjadi tempat ziarah yang teratur, sehingga ketika geografer Ptolemus mengunjunginya pada abad ke-2 SM, ia menamakannya sebagai “Makoraba” yang berhubungan dengan arti “karib” yakni “biara”. Orang ramai berziarah ke sana setiap tahun. Beberapa kali sebelum ini Kakbah telah diperbaiki antara lain di zaman Qushay dan Abdul Muthallib, kakek Nabi.

Rupanya ada Raja bernama Tubba As’ad Abu Karib Himyari yang mula pertama membawa kiswah (selubung) berwarna hitam yang kemudian dipakai lalu menjadi tradisi untuk menutup dinding Kakbah sampai hari ini. Rencana pemugaran itu sebenarnya hanya perbaikan atas karya Ibrahim. Fondasinya ditinggikan sampai empat hasta plus satu jengkal (sekitar 2 meter), tanah diuruk ke dalamnya menjadi lantai, sehingga sulit dicapai air banjir. Bersama itu pintu di bagian timur laut juga diangkat setinggi fondasi. Dinding dinaikkan sampai 18 hasta dan diberi atap, dengan ditopang dua deret tiang yang masing-masing terdiri atas tiga buah tiang dari bekas kapal Romawi yang kandas dan terdampar di Laut Merah masa itu. Sebuah tangga untuk naik turun juga disiapkan. Kakbah bebas dari banjir, isinya terlindungi dari hujan, panas dan tangan usil.

Pembangunan berjalan sesuai rencana, sampai dinding tembok mencapai tinggi 1,5 meter, saat mereka mesti menempatkan kembali batu hitam (Hajr al-Aswad) ke tempat semula, di sudut timur. Karena ini upacara suci penuh kehormatan, terjadilah perebutan antara sesama klan Quraisy dan suasana semakin panas dan tak terkendali. Dari suasana panas itu, muncul Abu Rabi’ah, kakak Walid, orang tertua di zaman itu. Ia mengemukakan usul, agar menunda keputusan dan menyerahkannya kepada orang pertama yang masuk dari pintu Shaffah. Hadirin setuju dan melihat ke arah pintu dengan tegang. Secara kebetulan, Muhammad muncul di sana. Orang-orang datang mengeremuni dan meminta pemecahan masalah yang sedang mereka hadapai.

 Kebijakan Muhammad

Kebijakan Muhammad melahirkan satu keputusanan yang sangat mengesankan, ia merentangkan selendangnya ke dekat batu hitam kemerahan itu. Dengan hati-hati ia tunduk, mengangkat batu lonjong yang bergaris tengah sekitar 45 dan 25 Cm itu, dan diletakkan di atas kainnya. Muhammad memerintahkan pemimpin setiap klan untuk memegang ujung kain. Lalu, mereka mengangkat secara bersama dan lega dengan cara mulus ini. Muhammad mengambil Hajr al-Aswad itu dan menaruh ditempatnya. Suasana menjadi dingin, ketegangan lenyap dan Muhammad dielu-elukan orang. Itulah satu puncak reputasi Muhammad dan mempertebal nama julukan atas dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya (al-Amin).

Setelah bangunan rampung, dekorasi disiapkan dan fungsi Kakbah kembali sebagai semula. Sebuah lampu emas dan sebuah yang perak digantungkan kembali di dalamnya. Juga beberapa alas dari kulit yang bulunya tak dicukur, serta pedang dan kijang emas peninggalan Abdul Muthalib. Patung Hubal dinaikkan dan diletakkan di pojok. Dinding tiang dan loteng dipenuhi gambar pohon dan nabi-nabi. Betapun kecilnya, Muhammad telah mengambil bagian secara terhormat, dan secara fisik ikut melanjutkan apa yang dibangun moyangnya, Nabi Ibrahim as.

Ini barangkali adalah sebuah kelanjutan moral dan agama bagi Muhammad tanpa setahunya. Ikutnya Muhammad menempatkan batu hitam (Hajr al-Aswad) yang dipegang Ibrahim itu adalah suatu simbolisme betapa kedua belah pihak telah ikut mengagungkan Kakbah. Keduanya telah memegang simbol keesaan Allah, lambang persatuan umat Islam. Dan kini setelah Kakbah menjadi pusat peribadatan umat Islam, maka setiap muslim yang mampu, wajib berhaji ke Baitullah di Mekkah al-Mukaramah seperti sedang dilaksanakan oleh saudara-saudara kita saat ini. Labbaikallahumma labbaik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s